Seni Rupa

December 6, 2007

Komik Sebagai Anglukis

Komik Perjuangan Delsy Syamsumar,

Periode 1962-1978.

Hikmat Darmawan

Kemungkinan besar, Anda pernah terpajan (terekspos) pada karya Delsy Syamsumar. Kalau Anda pernah bengong di bandara, dan memerhatikan delikasi logo maskapai penerbangan Bouraq, Anda sedang menatap karya Delsy. Atau kalau Anda ingat logo kuda laut yang sebetulnya aneh juga menjadi logo Pertamina dahulu, Anda juga sedang menatap karya Delsy. Atau, ingatkah Anda majalah Kartini yang pertama kali terbit pada masa 1970-an? Logo majalah itu juga karya Delsy. Tapi, yang sangat besar kemungkinannya, adalah jika Anda berada di kota-kota Indonesia, dan ujung mata Anda melihat restoran-restoran Padang di tepi jalan. Anda perhatikan logo nama restoran-restoran itu―banyak yang menggunakan model huruf yang dibuat berbentuk rumah gadang, lengkap dengan atap gadangnya yang mencuat. Nah, itu adalah tiruan dari rancangan grafis Delsy untuk logo restoran rumah Padang.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Seni Pertunjukan

November 28, 2007

Teater Segala yang Mungkin

Dari Multikulturalisme hingga Kemenduaan Teater Indonesia

Radhar Panca Dahana

Lebih dua dekade belakangan ini, diskusi teater―juga wacana-wacana intelektual lainnya―di berbagai belahan dunia, dihangatkan oleh pembicaraan mengenai multikulturalisme, sebagai cara berpikir, modus kerja atau kreatif. Namun, apa yang kemudian muncul dan dihasilkan dalam perbincangan ramai itu? Sebagian orang, entah pengamat, praktisi, atau akademisi, menyatakan hanya kesimpangsiuran yang kita dapat. Sebagian lain mengatakan perbincangan itu hanyalah kegenitan intelektual yang tak berhasil menyentuh problem praktis dan keseharian dari kerja teater itu sendiri. Erika Fischer-Lichte dengan gamang mempersoalkan “kegenitan” itu, karena belum bisa membuahkan satu skema berpikir yang adekuat, dan menurutnya, “terlalu tergesa untuk mengajukan sebuah teori global tentang interkulturalisme teater.”[1] Sementara Patrice Pavis memandang perbincangan ramai ini belum juga berhasil menemukan identitas masalahnya yang tegas. Yang terjadi adalah perdebatan sumir yang “tinggal sebagai pucuk dari gunung es.” [2]

Read the rest of this entry »

Seni Pertunjukan

October 11, 2007

Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini

(tubuh dari antropologi budaya lisan)

Afrizal Malna

Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri. Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral Tuhan sekaligus mencari kepuasaan karnal dirinya lewat tubuhnya sendiri. Dan tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika.

Read the rest of this entry »

Seni Musik

September 18, 2007

Musik:

Membangun Kembali Kesadaran Mencipta

Suka Hardjana

Salah satu persoalan utama negara-negara Dunia Ketiga dalam membebaskan diri dari keterbelakangan adalah hal kesadaran mencipta. Produk-produk kemajuan zaman dalam peradaban modern sebagian besarnya adalah hasil rekayasa kecerdasan mencipta. Aplikasi produk peradaban modern yang dioperasikan di negara-negara Dunia Ketiga tak jarang justru meninggalkan berbagai persoalan, karena kurangnya pemahaman mendasar atas latar belakang, alasan dan dalam konteks apa produk peradaban modern itu diciptakan.

Read the rest of this entry »

Seni Rupa

September 18, 2007

Lahirnya Ekspresionisme Baru

dan Sebuah Intermeso

Bambang Bujono

AFFANDI termenung di hadapan lukisan Max Ernst. Polish Rider, judul lukisan itu, memenangkan grand prix di Venice Biennale 1954. Max Ernst, salah seorang aktivis Dada dan salah seorang surealis yang karya-karyanya begitu imajinatif, fantastis, menghapuskan batas antara yang jauh dan dekat, yang nyata dan yang kayali. Karya-karya Max Ernst, tulis penyair Paul Eluard, “It is no far –through the bird – from cloud to the man; it is not far –through the images – from man to his visions, from the nature of real things to the nature of imagined things.”[1]

Read the rest of this entry »

Seni Sastra

September 18, 2007

Sastra Dunia yang Lain.

Terduniakan atau Teretnografikan?*

Nirwan Dewanto

Sastra dunia adalah sebuah cara dalam melihat sastra hari ini. Sepanjang sejarah umat manusia, sudah terlalu banyak karya sastra berlaku; kita dikepung oleh lautan karya, kalau bukan lautan mahakarya. Namun karya baru terus saja lahir. Bila saja sebuah karya adalah khas dan berpotensi cerlang-cemerlang, maka kita ingin menguji kekhasan ini dengan jalan memperlawankannya dengan latar belakang yang mahaluas itu, agar terbukti ia sebagai milik yang berharga—ataukah sekadar setitik debu polusi. Namun, tak sanggup berhadapan dengan kemahaluasan itu, kita memilih sebagian, bahkan sebagian kecil, yang sanggup mendukung kita dalam menetapkan ukuran yang tepat. Dari sudut kreatif, yang secercah inilah sastra dunia, yang mampu mendorong sastra nasional menjadi modernitas yang sewajar-wajarnya.

Read the rest of this entry »