Seni Pertunjukan

November 4, 2007

Harapan-harapan “Intercultural”:

I La Galigo di Singapura

Jennifer Lindsay

Penerjemah: Landung Simatupang

The Drama Review – Volume 51, Number 2 (T 194), Summer 2007, pp. 60-75

Markah

I La Galigo – pergelaran teater yang disutradarai Robert Wilson dan diilhami cerita epik dari Sulawesi, Indonesia, yang diperdanakan tahun 2003 di Singapura dan kemudian dikelilingkan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

I La Galigo – pergelaran epik Bugis La Galigo, dengan musik yang digubah dan diaransemen oleh Rahayu Supanggah; koreografi oleh Andi Ummu Tunru; nyanyian oleh pendeta Bissu, Puang Matoa Saidi; pelaku pergelaran dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Bali; dan disutradarai oleh sutradara tenar dari Amerika, yang dipentaskan di Jakarta Desember 2005 setelah mula-mula disajikan di berbagai tempat di luar negeri.

I La Galigo – epik yang tak terpisahkan dengan ritual para pendeta lintas jender yang terancam dari Sulawesi Selatan di Indonesia, yang bercerita dalam bahasa kuno tentang asal-muasal orang Bugis, dan kini dihadirkan menjadi perhatian dunia lewat pemanggungan karya penyutradaraan Robert Wilson, dengan koordinasi artistik oleh Restu Kusumaningrum, dan saduran naskah serta dramaturgi oleh Rhoda Grauer.

I La Galigo – pementasan tiga jam epik Bugis I La Galigo, disutradarai oleh Robert Wilson, menampilkan: rancangan tata cahaya, yang merupakan unsur dominan pementasan, oleh Robert Wilson; musik tradisional dari Sulawesi Selatan dan gubahan baru oleh Supanggah; pelaku pergelaran dari berbagai daerah di Indonesia yang gerak koreografisnya kadangkala mirip tari; unsur kata yang sesedikit mungkin dan diucapkan oleh para pemusik; nyanyian oleh seorang pendeta Bissu; dan potongan-potongan sana-sini dari naskah La Galigo dalam terjemah bahasa Inggris, yang sesekali ditayangkan sebagai tulisan di atas bingkai panggung.

I La Galigo – penyampaian lewat pementasan kontemporer suatu ringkasan kisahan terjemahan dari sehimpun sangat besar episoda epik yang secara keseluruhan disebut La Galigo, dan yang menceritakan asal-muasal orang Bugis.

I La Galigo – cerita tentang asal-muasal yang sebelum ini hanya dinyanyikan dalam bentuk syair oleh orang-orang pilihan di suatu tempat, dituturkan dan ditutur-ulangkan kepada orang lain (liyan) di tempat itu, dan kini disampaikan secara lihatan oleh liyan lain dari tempat-tempat lain, dalam pergelaran yang dibuat dan diarahkan oleh liyan lain yang lain dari tempat-tempat lain yang lain, serta ditampilkan untuk banyak orang yang merupakan liyan lain yang lain lagi dari banyak tempat lain yang lain lagi.

Jennifer Lindsay pernah 20 tahun tinggal di Indonesia, sebagai pembelajar, peneliti, diplomat, dan pimpinan program suatu yayasan. Dari tahun 2003 sampai 2006 dia Senior Visiting Fellow pada the Asia Research Institute, the National University of Singapore, mengajar di Southeast Asian Studies Programme, dan sebelumnya di Department of Performance Studies, the University of Sydney, Australia. Dia penerjemah (dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris); serta Penyunting dan Penyumbang Tulisan untuk Between Tongues: Translation and/of/in Performance in Asia (Singapore University Press, 2006). Sekarang dia Visiting Fellow pada Southeast Asia Centre, Faculty of Asian Studies, the Australian National University.

Bagaimanapun cara saya menggambarkan pergelaran I La Galigo yang saya tonton di Singapura tahun 2003, saya harus memilih unsur apa saja yang saya masukkan, dengan mengandaikan akan ada hal-hal tertentu yang dikenal sidang pembaca dan ada pula yang tidak. Saya putuskan bahwa kata-kata tertentu memerlukan penjelasan, sedang kata-kata lain tidak. “Bugis”, misalnya, atau “Robert Wilson”. Itu bergantung pada bayangan saya tentang kalangan asal pembaca saya, dan apakah mereka sudah pernah menyaksikan pergelaran itu. Kita membawa markah “akrab” dan “asing” kita sendiri dalam menghadapi pergelaran itu atau tulisan ini, tetapi juga membuat anggapan tentang keakraban dan keasingan karena dilekatkannya markah-markah yang sudah dikenal. Seperti markah “interkultural”, misalnya.

Budaya Interkulturalisme

Kata “interkultural” (“antarbudaya”) dan “interkulturalisme” telah dikaitkan dengan pergelaran (performance) selama sekurangnya empat dasawarsa sampai sekarang, dan sudah sejak lama menjadi ungkapan yang lazim di kalangan pelaku, kritikus, maupun penonton. “Interkultural” /”antarbudaya”, yang diperkenalkan Richard Schechner sebagai kontras untuk “internasional”/”antarbangsa”, semula mengacu pada karya oleh, dan perjumpaan antara, seniman-seniman yang berasal dari “budaya” berbeda-beda (1983).1 Dalam penghalusan nuansa konsep itu, interkulturalisme akhirnya mengacu pada cara kreatif untuk menggarap (atau mengolah) perbedaan. Sepanjang dasawarsa 1980an dan 1990an awal, terjadi banyak perdebatan tentang etika hal ini, ketika perbedaan dapat ditafsir dalam kaitan dengan pengambilalihan atau perampasan (apropriasi) budaya-budaya “dunia ketiga” oleh “dunia pertama”. Lebih belakangan, Schechner mengembangkan pengertian interkulturalisme dalam kaitan dengan globalisasi (2006:263-325).

Pengertian tersirat “interkulturalisme” ialah tegangan antara menunjukkan perbedaan selagi mencari kesamaan pula. Perbedaan harus diakui agar Pihak Lain/Liyan dapat disebut sebagai suatu “budaya”, tetapi harus ditemukan pula cara menembus hingga mengatasi perbedaan itu, yang memungkinkan terjadinya “inter”-aksi. Menunjukkan perbedaan sembari mencari kesamaan ini memunculkan kecenderungan penggambaran budaya secara garis-besar, misalnya Timur dan Barat, Utara dan Selatan, tradisional dan kontemporer. Hal tersebut juga menggalakkan perhatian terhadap proses kelompok dalam semangat “ ‘kita’ berjumpa ‘mereka’” tetapi juga, di sisi lain, visi perseorangan – terutama sutradara teater – dalam mencipta karya dari perjumpaan itu. “Pergelaran antarbudaya” biasanya digambarkan sebagai sesuatu yang terjadi di kalangan seniman, dan sesuatu di panggung yang dibuat oleh sutradara dan aktor.

jennifer-galigo1-2.jpg

Gambar 1.

Mengimbau calon penonton menyiapkan nafas panjang. Halaman depan the Straits Times rubrik Life!11 Maret 2004 sehari sebelum pergelaran perdana I La Galigo. Judul itu juga menggugahkan perhatian tentang hubungan Singapura dengan Bugis dan bahwa pergelaran ini bermuasal Bugis. (Izin pemuatan gambar dari SPH – the Straits Times)

Saya tertarik merenungkan bagaimana perhatian terhadap interkulturalisme itu membentuk harapan penonton pada pergelaran, dalam kaitan dengan apa yang dilihat dan didengar maupun yang tak dilihat dan tak didengar penonton. Apa yang terjadi jika kita berhenti berpikir tentang interkulturalisme melulu sebagai praktik sutradara dan aktor, dan mengalihkan perhatian kita kepada penonton? Bagaimanakah penonton membawa dan mengikutsertakan teks yang telah mereka cerap sebelumnya tentang teori, ulasan, pembahasan, dan pengertian “interkulturalisme” ke dalam pembacaan mereka atas suatu pergelaran? Apa acuan, pembacaan silang, dan pengait-kaitan (alusi) yang mereka punyai dan lakukan? Jika kita gunakan istilah Julia Kristeva ([1974] 1984), apakah “interteks” yang membentuk harapan antarbudaya penonton? Apakah “budaya-budaya” dalam suatu pergelaran antar-“budaya” itu, dan proses “inter”-aksi apakah yang tercenderungkan diamati penonton? Dan apa yang menjadi lolos dari amatan penonton? Apa budaya “pergelaran antarbudaya” itu?

Saya terangsang memikirkan lebih jauh soal-soal ini ketika berkesempatan menonton I La Galigo, pergelaran yang dari segi keproduksian sangat memenuhi syarat untuk disebut antarbudaya, interkultural. Saya menyaksikan gladinya satu kali, gladi bersihnya, dan malam pembukaan pergelarannya di Singapura. Saya juga mengurus forum diskusi sehari, yang terbuka untuk umum, tentang epik La Galigo (yang dikenal pula sebagai I La Galigo atau Sureq Galigo – selanjutnya dalam tulisan ini, La Galigo saya gunakan untuk merujuk epiknya dan I La Galigo pergelaran teaternya). Forum diskusi ini berlangsung di Esplanade sehari setelah malam perdana, diselenggarakan bersama oleh Esplanade dan the Asia Research Institute, National University of Singapore, dan melibatkan pendukung pementasan maupun para pakar La Galigo. Pergelaran kemudian dibawa melanglang ke Ravenna, Barcelona, Madrid, Amsterdam, Lyons, dan New York sebelum dipertunjukkan di Jakarta bulan Desember 2005. Beberapa tulisan pra-pergelaran dan ulasan pergelaran di tempat-tempat lain memang memperlihatkan kemiripan dengan apa yang muncul di Singapura, tetapi titik perhatian khusus esai ini ialah pergelaran di Singapura dan liputan media di Singapura serta Indonesia.

Menanti I La Galigo

Pergelaran perdana dunia I La Galigo dilangsungkan 12 Maret 2004 di Espalanade, Singapura, gedung pertunjukan besar di tepian sungai (dijuluki ‘durian’ karena arsitekturnya yang lain dari yang lain), yang diresmikan tahun 2002. Liputan pers tentang I La Galigo bermula awal Maret 2004, beberapa hari menjelang malam pembukaan. Harian Singapura Straits Times memuat tulisan Tan Shzr Ee tanggal 11 Maret 2004, yang mengutip wawancara dengan Puang Matoa Saidi, Supanggah, Rhoda Grauer, dan Restu Kusumaningrum, dan menyajikan keterangan latar belakang tentang pergelaran ini dan tentang sutradara Robert Wilson. Iklan besar dua halaman untuk pergelaran ini muncul dalam Straits Times edisi 12 Maret (Esplanade 2004c). The Arts Channel, yang terpilih sebagai saluran televisi resmi I La Galigo, secara menerus menayangkan klip pendek, produksi Esplanade, yang mengiklankan pergelaran ini. Klip ini juga ditayangkan di saluran-saluran TV Singapura berbahasa Inggris maupun TV kabel (Discovery Channel, National Geographic, BBC, CNN, dan AXN). Esplanade juga menerbitkan perangkat keterangan pers serta buklet yang menggunakan bahan yang disediakan tim produksi I La Galigo (Esplanade 2004a, 2004b).

Sebagai bagian dari pemanasan pra-pergelaran di Singapura, Esplanade juga menyelenggarakan berbagai pameran dan kegiatan yang terkait, yang keseluruhannya diberi tajuk “Indonesian Odyssey.” Ini mencakup pameran fotografi oleh seniman foto Indonesia Andi Alimuddin Sultan tentang Tana Toraja yang diberi judul Land of I La Galigo dan digelar di lintasan pejalan kaki bawah-tanah menuju Esplanade (lintasan utama dari MRT underground dan mal perbelanjaan Raffles City); pameran oleh perupa Indonesia EddiE HaRA dan Samuel Indratma, yang dipajang di lobi utama Esplanade; pergelaran gamelan Jawa oleh kelompok Asmaradana dari Singapura di bangsal Esplanade; dan pergelaran di tepi sungai oleh kelompok wayang kulit tamu dari Kedah, Malaysia.

Di Indonesia, pemanasan pra-pergelaran dimulai jauh lebih awal, dengan promosi gabungan yang melibatkan wartawan dari pers berbahasa Inggris maupun Indonesia sepanjang proses produksi I La Galigo. Majalah mingguan Tempo mulai menyajikan artikel tulisan wartawan seni Seno Joko Suyono bulan Januari 2003, lebih setahun sebelum pembukaan pergelaran, dan ditindak-lanjuti bulan September 2003. Artikel-artikel Carla Bianpoen mulai muncul di Jakarta Post bulan Februari dan awal Maret 2004. Latitudes, majalah berbahasa Inggris yang terbit di Bali, nomor 37, Februari 2004, seluruhnya membicarakan produksi pergelaran ini. Wartawan seni Efix Mulyadi mulai menulis liputan dari Singapura untuk Kompas bulan Maret 2004, sebelum pembukaan pergelaran.

Ada beberapa kesamaan tema yang muncul dalam tulisan pra-pergelaran di Indonesia dan Singapura, mungkin karena kesamaan bahan publisitas yang disediakan bagi para wartawan Indonesia oleh staf produksi I La Galigo, tetapi mungkin pula karena terjadinya pindahan antarteks dari tulisan satu ke tulisan lain. Beberapa di antaranya disampaikan sebagai informasi dasar, misalnya: La Galigo adalah sebuah epik, sebuah mitos mengenai asal-muasal bangsa Bugis. Epik ini sangat kuno, kemungkinan besar dari abad keempat belas. Epik kuno ini tersimpan secara tertulis dalam naskah-naskah tulisan tangan yang menggunakan aksara Bugis, dan setiap naskah menceritakan petilan-petilan kisahnya. Andaikata semua petilan itu dikumpulkan menjadi satu, epik ini akan sangat panjang, tetapi baru sekitar sepertiga dari “keutuhan” itu yang pernah terhimpun. La Galigo ditulis dalam bahasa kuno dan dinyanyikan pada upacara-upacara tertentu oleh pendeta-pendeta transjender yang disebut Bissu. Hanya segelintir kecil orang mampu membaca naskah-naskah ini atau memahami bahasanya.

Munculnya pergelaran ini bermula dengan minat seorang sineas Amerika, Rhoda Grauer, yang waktu itu sedang membuat dokumenter tentang Bissu.2 Ia melibatkan banyak orang Indonesia dari berbagai latar belakang dalam menggagas penggarapan pergelaran teatrikal, dan mengusulkan proyek ini kepada sutradara tenar Robert Wilson yang menanggapinya dengan bersemangat. Proses kreatif pergelaran ini meliputi penelitian yang meluas dan serangkaian lokakarya dengan semua pemeran dari Indonesia.

Dalam menyampaikan cerita ini kepada khalayak, publisitas pra-pergelaran menekankan berbagai tema bersama. Pertama, semua tulisan itu, tanpa kecuali, memberikan perhatian besar pada panjangnya epik La Galigo, yang biasanya dinyatakan dalam banyaknya halaman (“6000 halaman lebih”), seolah itu sendiri sudah menandakan kebesaran “epik”. “Ukuran” dan keberadaan sebagai “epik” itu secara tak terelak ditekankan lewat pembandingan dengan teks-teks epik lain. La Galigo “lebih panjang ketimbang Mahabharata”, atau “lebih panjang daripada Mahabharata atau Odyssey.” Frasa “lebih panjang ketimbang Mahabharata” menjadi mantra, bagian kosakata produksi itu sendiri.3 Tema kekunoan juga muncul di seluruh tulisan publikasi. La Galigo berasal dari masa “pra-Islam”. La Galigo ini begitu kuno sehingga hanya segelintir orang pilihan mampu memahami bahasanya. Kekunoan dikaitkan dengan yang sakral, dengan jagad para pendeta Bissu, dan dengan dunia serta ritual pra-Islam orang Bugis. Erat terhubung dengan tema kekunoan dan kekaburan, sulitnya pemaknaan, adalah tema-tema kehilangan, ancaman, dan epik yang “nyaris terlupakan” yang disangkut-pautkan. Dari ancaman dan nyaris kehilangan itu, dimunculkan tema-tema penemuan dan penyelamatan: seseorang telah menemukannya, dan punya gagasan untuk menggarapnya sehingga epik ini beserta nasibnya yang merana menjadi perhatian dunia lewat pergelaran yang disutradari seseorang yang diperhatikan dunia. Ketika pergelaran perdana makin mendekat, muncul tema bersama lainnya, yakni perhatian yang nyata-nyata sudah diperoleh pergelaran itu dan yang mungkin akan terus diberikan orang padanya. Disebutkan bahwa malam perdana itu sendiri merupakan peristiwa istimewa, dan siapa saja penonton VIP yang akan hadir. Di Singapura, bahkan sebelum malam pembukaan, pementasan perdana I La Galigo sudah dijuluki “peristiwa teater terbesar tahun ini” (Tan 2004a:L3).

jennifer-galigo2-2.jpg

Gambar 2.

Gambar yang dibuat oleh Robert Wilson dan digunakan dalam publikasi untuk pertunjukan perdana I La Galigo, direproduksi pada sampul buklet yang dibuat oleh Esplanade. (Dimuat seizin Change Performing Arts dan the Esplanade; aslinya berwarna)

Akan tetapi antara di Singapura dan di Indonesia ada perbedaan dalam penceritaan pra-pergelaran. Di Singapura, iklan pergelaran, publisitas, dan liputan pra-pergelaran I La Galigo menyoroti Singapura sebagai simpul lintas-bangsa/lintas-budaya yang menyajikan repertoar “Asia” kepada khalayak internasional, menekankan kemajuan teknologi Singapura, dengan Esplanade-nya yang mampu menyediakan pendukung teknologis paling modern untuk pergelaran ini. Kalimat pembuka dalam keterangan pers Esplanade berbunyi:

Sasana Pergelaran Esplanade − Theatres on the Bay menghidupkan temuan sastra terbesar di Asia dalam sejarah mutakhir – Sureq Galigo, syair epik bangsa Bugis di Sulawesi Selatan – sebagai pergelaran teater, tari dan musik I La Galigo, yang dirancang dan disutradarai empu teater terkemuka, Robert Wilson.4

Dan kemudian:

Nilai penting I La Galigo tidak hanya terletak pada karya itu sendiri melainkan dalam penggunaan teknik pementasan teater yang menjadikan teks penting seperti ini tersampaikan dengan baik kepada khalayak. (2004a:5)5

Tulisan pra-pergelaran di Straits Times oleh Tan Shzr Ee lebih eksplisit. I La Galigo, demikian dikatakannya, akan “mengarahkan lampu sorot kesenian internasional ke Singapura” (2004a:L3). Penekanannya ialah pada Singapura sebagai yang pertama di dunia menuanrumahi pergelaran yang secara teknologis tinggi tuntutannya ini, dan Singapura yang secara internasional dinilai mampu mengemban amanat berat itu.

Publisitas di Singapura juga menggarisbawahi nama Robert Wilson dan citra “kontemporer”. Iklan-iklan untuk pergelaran ini, dalam artian visual, relatif netral – jelasnya, tidak banyak menegaskan kekhasan budaya tertentu. Staf Esplanade mengatakan kepada saya bahwa yang ingin mereka sampaikan ialah suatu citra “internasional” dan bukan “etnis”. Logo pergelarannya sendiri, yang dirancang Robert Wilson, tidak memuat apa pun yang langsung dapat ditunjuk sebagai ciri Sulawesi atau Indonesia. Sosok tipe manusia-burung dengan latar belakang siraman warna jingga dan merah itu tampak tidak spesifik, barangkali menyaran pada gagasan umum tentang seni rupa bangsa pribumi Amerika atau “pribumi” lainnya (dan yang jenis warna jingga dan merahnya menjadikannya agak mirip iklan Master Card®). Pada iklan-iklan di Singapura, kata “Bugis” dan “Sulawesi Selatan” muncul bersama logo ini, tetapi tanpa acuan lihatan (visual) sebagai pancangan untuk kata-kata itu.

Akan tetapi, meskipun pengiklanan I La Galigo mengembangkan citra “non-etnik” dan “internasional”, produksinya dibingkai dengan berbagai cara yang berbeda. Di Singapura, halnya sangat rumit. Seperti sudah disebutkan, Esplanade menyelenggarakan serangkaian peristiwa yang diberi tajuk Indonesian Odyssey (kita tangkap isyarat yang mengacu pada Homerus di sini), yang menempatkan I La Galigo secara geografis sebagai Indonesia (alih-alih Sulawesi Selatan atau Bugis). Bahkan pameran foto Sulawesi yang merupakan bagian dari acara ini pun, yang diberi judul Land of I La Galigo, menyajikan gambar-gambar dari Tana Toraja.

Indonesian Odyssey, sementara meletakkan I La Galigo sebagai “Indonesia”, melokalkan keindonesiaan itu dengan memasukkan kelompok gamelan setempat (Singapura). Namun bersamaan dengan itu keindonesiaan ini juga meluas hingga ke dunia Melayu umumnya, dengan dimasukkannya para penyaji wayang kulit dari Kedah. Ini harus dipahami dalam bingkai politik etnik Singapura, suatu negeri yang secara legal menuntut warganya menyatakan etnisitas mereka sebagai satu di antara keempat etnisitas resmi, yaitu: Cina, Melayu, India, atau Lainnya. Demikianlah, Indonesia dilokalkan sebagai “Melayu” dalam pengelompokan etnis CMIO (Chinese, Malay, Indian, Other) itu. Bugis, Sulawesi, dan Indonesia semuanya dibaur-cakup dalam dunia Melayu.

Meski demikian, iklan untuk pergelaran ini juga mengimbaukan gagasan tentang sejarah panjang hubungan Bugis dan Singapura. Sejak Singapura didirikan, telah ada komunitas-komunitas Bugis di sana. Pada pertengahan 1800an, bahasa yang terbanyak digunakan di Singapura setelah bahasa Melayu ialah bahasa Bugis seperti ditulis Roger Tol (2003).6 Di Singapura, sejarah ini tertandai dengan nama Bugis Street (yang pernah dikenal sebagai daerah lampu merah dan waria) dan wilayah yang disebut Bugis. Tulisan-tulisan pra-pergelaran tentang I La Galigo juga bersumber pada acuan-acuan ini, dengan tajuk berita seperti “Bugis Village” (Straits Times 2004:L1) dan “Right up Bugis Street” (Tan 2004a:L3-4). Maka, sementara di satu sisi ada kecenderungan merangkum seluruh dunia Melayu (menempatkan Singapura, Indonesia, Sulawesi, dan Sulawesi Selatan di dalamnya), ditekankan pula hubungan langsung yang khusus dan sudah terjalin lama antara Singapura dan orang Bugis.

Di Indonesia, publikasi pra-pergelaran untuk I La Galigo menekankan proses gladi (latihan) yang berlangsung di Bali. Penyebut-sebutan Wilson lebih dititikberatkan pada gaya kerjanya dan tidak terutama membicarakan Wilson sebagai “nama besar” yang sudah terkenal seperti dilakukan di Singapura (di sana dia juga sudah dikenal masyarakat kesenian karena pergelarannya Hot Water yang disajikan pada dan dalam kerjasama dengan Singapore Arts Festival tahun 2000). Tiga artikel Seno Joko Suyono di majalah Tempo, misalnya, kaya wawasan, peka dan cerdas. Dia menjelaskan bagaimana Wilson menggunakan “materi manusia” dalam pergelaran – dengan demikian mempersiapkan publik Indonesia untuk menggunakan cara lain dalam menontonnya nanti (2003a:158). Artikel-artikel di Indonesia juga memberikan perhatian besar pada riwayat terjadinya pergelaran ini, mulai dari minat Grauer pada epik ini, keterlibatan Kusumaningrum, teryakinkannya Wilson untuk mau berperanserta, sampai kerjasama Grauer dengan pakar naskah La Galigo Mohammad Salim, dan hingga seleksi pemain. Para penulisnya sangat berhati-hati untuk menekankan kepekaan budaya dalam proyek ini; misalnya, ada dikatakan bahwa Wilson bersikap tanggap terhadap harapan dan keinginan para pendeta Bissu (Suyono 2003a:160) dan bahwa dia setuju semua pendukung pergelarannya orang Indonesia (Bianpoen 2004a:14). Secara keseluruhan, nada tulisan-tulisan yang dipublikasikan ini tidak menilai dan menghakimi melainkan penasaran, sangat ingin tahu seperti apa jadinya nanti pergelaran itu.

Pengiklanan dan liputan pra-pergelaran di Singapura maupun Indonesia ini membentuk dan mencerminkan harapan publik terhadap pergelaran itu. Harapan-harapan ini secara tegas dan tajam sudah dibingkai sebagai interkulturalisme, jauh-jauh hari sebelum publik melihat apa pun di panggung. Keterangan pers di Singapura jelas-jelas menyebut gagasan tentang pertukaran antarbudaya, interkultural. Terbaca di situ, “’Debut epik dari Asia yang penting ini memancing terjadinya dialog antarbudaya,’ ujar Benson Puah, CEO Esplanade.” Dan dilanjutkan, “’Asia dan khususnya Asia Tenggara memiliki sejarah panjang dan kaya, dengan harta karun cerita rakyat, mitos dan legenda yang belum tersingkapkan kepada dunia’7 (Esplanade 2004a:5). Dengan kata lain, Esplanade, bersama masyarakat Singapura, menumbuh-kembangkan dan memudahkan “dialog antarbudaya” antara Asia/Asia Tenggara dan dunia itu; Singapura sedang memainkan peran selaku perantara budaya, makelar kultur, di wilayah Asia, dan menjadi perantara Asia ke seluruh dunia, dengan membuat apa yang sebelumnya tak dikenal menjadi dikenal.

Harapan interkultural juga dibangun dengan mengingat-ingatkan kembali pada ikon-ikon antarbudaya lainnya. Misalnya, waktu Seno mewawancara Botja Sitja, Direktur Barcelona Universal Forum of Cultures (yang menjadi penerima dan penyelenggara I La Galigo bulan Mei 2004), dia menanyakan kepada Sitja bagaimana perbandingan antara Wilson dan Peter Brook, “yang juga dikenal juga suka mengolah materi mitologi dari khazanah Timur (2003b:106). Dan Efix Mulyadi, yang menulis dalam koran nasional Kompas, menyatakan bahwa Supanggah, pengarah dan penggubah musik untuk pergelaran ini, sebelumnya pernah bekerja bersama “Peter Brook dan Ong Keng Sen” (2004a:11).

Jadi pengalaman “antarbudaya” macam apa yang diharap oleh penonton dan pembaca?

Selalu diperbandingkannya La Galigo dengan Mahabharata merupakan pembingkaian antarbudaya pada dua muka. Muka pertama, pembandingan itu sendiri adalah perbandingan lintas-budaya, dari Sulawesi ke India (dan Asia Tenggara), yang menegaskan bahwa “hal ini di sini” dalam cara tertentu dapat diperbandingkan dengan sesuatu dari “nun, di sana” yang sepenuhnya berbeda. Akan tetapi barangkali lebih penting, perbandingan itu juga mengingatkan kepada ikon besar pergelaran antarbudaya, yaitu Mahabharata-nya Peter Brook (1985), pergelaran yang memancing sekian banyak perdebatan tentang interkulturalisme, dan yang bertahun-tahun menyediakan bahan untuk dikonsumsi akademisi. Lama sebelum pergelaran Wilson menjejak panggung, dialog antarbudaya dianggap terkilaskan dalam istilah-istilah Timur dan Barat yang luas dan kabur itu, seperti tampak dalam acuan Seno yang dikutip di atas tentang Brook “mengolah materi mitologi dari khazanah Timur” (penekanan adalah tambahan saya). Dan paduan antara sutradara Barat, pemain Indonesia, dan epik “yang lebih panjang ketimbang Mahabharata” tak pelak lagi merupakan resep pembingkaian klasik untuk “antarbudaya”.

Budaya-budaya yang diperbandingkan dengan menajamkan perbedaannya ini kemudian dikukuhkan dalam kaitan dengan kuno lawan modern; tradisional lawan kontemporer; dan kehilangan lawan penyelamatan. Keterangan pers di Singapura mengatakan pergelaran ini “hendak memadu-luluhkan tradisi orang Bugis di Sulawesi Selatan dengan bahasa teater Wilson yang unik, kontemporer, dan visioner”8 (Esplanade 2004a:6). Wartawan Indonesia Carla Bianpoen menulis bahwa “inilah pertama kalinya warisan puisi suku Bugis yang bangga diri di Sulawesi Selatan itu diusung ke luar negeri untuk sajian pergelaran kontemporer”9 (2004a:14), dan, di tempat lain, bahwa “odiseus Bugis kuno ini mengawali pengelanaan modernnya” (2004b:18). Seno Joko Suyono mengutip pernyataan Sitja tentang sutradara I La Galigo: “Wilson berusaha memandang tradisi dengan perspektif baru. Ia menjadikan yang klasik menjadi sangat modern dan aktual untuk masa kini.” (2003b:106). Diana Darling mengutip Grauer:

I La Galigo selalu dalam pikiran saya. Saya ingin berbuat sesuatu – sesuatu yang besar, yang dapat menarik perhatian orang pada teks yang menakjubkan itu […] Wilson dikenal di lingkup internasional dengan gaya epiknya dalam teater garda-depan. Kejeniusannya di bidang visual akan tepat betul untuk citra-citra magis dalam La Galigo. (2004:36)10

Sementara tempat kedudukan Singapura – simpul pertama dunia yang terletak di Asia Tenggara – agak mengaburkan kosokbali (oposisi) tajam Timur-Barat, teks antarbudaya pra-pergelaran itu menjadi salah satu penerjemahan teknologis antara yang tradisional, mitis, lokal dan terancam di satu sisi, dan pentas modern, kontemporer, dan internasional di sisi lain – lewat bahasa pemanggungan modern, dengan peng-“antaraan” yang dimudahkan oleh Singapura selaku simpul kosmopolit dan Robert Wilson selaku seniman visioner. Jika dibagankan, hasilnya sebagai berikut, dengan tiga butir pertama bersilangan seperti telah saya bicarakan:

Asia Internasional/dunia

Indonesia ↔ Internasional

Bugis ↔ Dunia

Timur ↔ Barat

Lokal ↔ Internasional

Tak dikenal ↔ Dikenal

Ritual, mitos, upacara ↔ Panggung

Kerumitan teks ↔ Kerumitan teknologi

Kuno ↔ Kontemporer, gardadepan, modern

Telaah akademis ↔ Pergelaran

Kehilangan ↔ Penyelamatan

Pergelaran dan Forum

Malam pembukaan jatuh hari Jumat, dan pergelaran hanya dua kali di Singapura, tanggal 12 dan 13 Maret. Sabtu siangnya, Esplanade bersama Asia Research Institute menyelenggarakan forum terbuka tentang La Galigo dan produksi yang sedang berlangsung. (Saya cukup berperan dalam memungkinkan kerja bersama ini dan dengan demikian saya adalah bagian dari pembingkaian pra-pergelaran produksi ini dalam kaitan dengan dunia “akademisi internasional.”)

Dua ribu tempat duduk di sasana pergelaran Esplanade itu terjual habis. Bagaimana kita mencoba mengelompok-kelompokkan penonton? Pertama, ada kelompok sangat kecil tetapi penting yang terdiri atas para spesialis dan sarjana La Galigo yang beberapa di antaranya diundang untuk berbicara di forum sedang yang lain datang dengan biaya sendiri. Banyak dari mereka bukan orang Indonesia.11 Di ujung lain, ada kelompok lebih besar dan terdiri atas para penggemar Robert Wilson yang sudah sangat akrab dengan karya Wilson dan sangat ingin menyaksikan produksi terbarunya. Ada para spesialis tentang Indonesia dan Asia Tenggara yang beberapa di antaranya punya pengetahuan mendalam mengenai sejarah Sulawesi dan Bugis, dan beberapa di antaranya (saya masukkan diri saya sendiri di sini) punya minat khusus pada Indonesia dan Asia Tenggara meskipun tidak banyak tahu tentang Sulawesi. Ada kontingen sangat besar orang-orang dari Indonesia, yang khusus terbang ke Singapura untuk menonton, dan orang bukan-Indonesia yang tinggal atau pernah tinggal di Indonesia, sebagian mukim di Singapura, dan ada pula dari tempat-tempat lain yang datang ke Singapura demi pergelaran ini. Kontingen Indonesia mencakup pula kelompok yang beranggotakan sekitar 70 orang dari Sulawesi termasuk Menko Kesra kala itu, Jusuf Kalla, yang kini Wakil Presiden RI. Termasuk pula banyak wartawan dan tokoh kesenian terkemuka dari Jakarta. Orang Singapura dan penduduk Singapura yang berada di antara penonton (selain pelanggan tetap Esplanade) meliputi kelompok-kelompok “VIP” – yang terutama diundang oleh sponsor Esplanade, Volkswagen, tetapi juga mencakup satu kelompok dari National University of Singapore yang dipimpin oleh rektor universitas dan Asia Research Institute (termasuk saya); pelaku teater dan kesenian, pejabat urusan kebudayaan, dan teoretisi kebudayaan dan pasca-kolonial yang barangkali berharap-harap ada kemungkinan mendapat bahan untuk menulis artikel. Ada suasana sesuatu yang sangat “antarbudaya” dalam komposisi kerumunan yang berbaur dan bertegur-sapa dalam berbagai rasi di lobi itu, yang sedikit saja dari mereka tahu banyak tentang La Galigo, beberapa hanya sangat sedikit mengetahuinya, tetapi kebanyakan mungkin sama sekali tdak tahu.

Forum diskusi terbuka menarik sekitar 200 orang. Para pembicaranya pakar-pakar sastra dan sejarah Bugis (Ian Caldwell, Leonard Andaya, Tol, dan Salim) dan para seniman pendukung dan lain-lain yang terlibat dalam produksi (Grauer, Kusumaningrum, Supanggah, dan Andi Ummu). Salah satu penari dari Makassar, Satriani Kamaluddin, menyajikan peragaan singkat tari pakarena, dan beberapa pemusik pergelaran itu memberikan presentasi. Forum dihadiri wartawan, banyak dari orang-orang seni Indonesia yang datang dari Jakarta, dan banyak warga serta penduduk Singapura yang berkecimpung dalam dunia kesenian dan akademi.

jennifer-galigo3-2.jpg

Gambar 3.

Satriani Kamaluddin dari Makassar memperagakan tarian Pakarena di hadapan peserta forum diskusi tanggal 13 Maret 2004. (Izin pemuatan dari Asia Research Institute, National University of Singapore)

Secara keseluruhan, ulasan dan liputan media atas pergelaran di Singapura dan Indonesia serta reaksi hadirin di forum itu mengacu pada teks antarbudaya yang telah disusun sebelumnya: kebesaran dan keagungan epik, orang-dalam dan orang-luar, lokal lawan global, ditambah perbincangan tentang kepekaan terhadap “yang aslinya” dan terhadap ritual. Ulasan-ulasan di media Singapura memberikan tekanan pada panjangnya pergelaran itu – terutama bahwa tidak ada selang waktu, tanpa istirahat kamar-kecil (periksa misalnya gambar 1; Straits Times, 11 Maret 2004:L1). Suatu epik besar, yang lebih panjang daripada Mahabharata, menuntut penderitaan, rupanya – atau barangkali kita mengenali suatu epik besar justru dari penderitaan yang ditimpakannya atas kita. Ulasan Tan mencatat bahwa “epik 6000 halaman” itu berlangsung tiga jam sepuluh menit; Singapura dan “panggung global” ada disebut-sebut (2004b:L4-5).

“Jumat dan Sabtu malam silam, begawan teater Amerika berusia 63 tahun (Robert Wilson) memerankan Tuhan dan meletakkan Sulawesi pada peta Singapura dan dunia lewat I La Galigo” (“Last Friday and Saturday night, the 63-year old American theatre guru (Robert Wilson) played God and put Sulawesi on the Singaporean and global maps via I La Galigo”), tulis Tan. Ia mencatat “daftar tamu kehormatan yang terdiri atas politisi Singapura, wartawan seni internasional, dan 70 warga Bugis yang bangga, sebagian terbang ke Singapura dengan biaya sendiri.” (“fanfare guest list of Singapore politicians, international arts journalists, and 70 proud Buginese, some flying at their own expense.”) Penampil pergelaran yang disebut namanya hanya Supanggah dan Puang Matoa Saidi. Dimunculkan pula asosiasi-asosiasi lain tentang pergelaran antarbudaya: “pantomim makhluk-makhluk kekanakan dalam gaya Lion King” (“the Lion-King-esque pantomime of kiddie creatures”); noh Jepang; dan “pose diam yang lama, mirip kabuki” (“kabuki-like frozen stances”) (L5).

Tetapi bagi Tan pergelaran itu “liniar” (“linear”), “datar” (“flat”), “dwi matra” (“two-dimensional”), dan “tingkat kecepatannya terlalu rata” (“pace too even”). Ia menduga bahwa ini karena Wilson “terlalu sadar akan utang budinya pada tradisi pergelaran Sulawesi” (“too deliberately beholden to Sulawesi’s performing traditions”) dan karena “rasa hormat yang terlalu berhati-hati” (“over-careful respect”), pandangan yang juga diungkapkan oleh beberapa pengikut Wilson.12 Ikon antarbudaya Singapura sendiri, yaitu sutradara teater yang dikenal secara internasional, Ong Keng Sen, “akan menggarapnya secara berbeda”, kata Tan. Seturut Tan, “teks, gerak, dan gestur sangat banyak yang tidak disentuh dan tidak diubah.” Tetapi sebaliknya ia memuji Supanggah:

Maka syukurlah ada musik yang sangat bagus oleh Rahayu Supanggah dan kawan-kawan, perangkat unsur terkuat dalam produksi ini. Terasah oleh kerja lapangan selaku etnomusikolog, dan juga pengalamannya bekerjasama dengan Peter Brook dan Ong Keng Sen, komposer ini mengubah tim penyanyi dan pemusiknya menjadi pilinan benang-benang vokal dan keriuhan irama, tekstur dan efek-efek bunyi pra-Islami. (L5)13

Para pengulas Indonesia umumnya tercabik antara kebanggaan karena hura-hura internasional di seputar suatu epik “Indonesia” dan kekecewaan terhadap produksinya secara keseluruhan. Meski terkesan dengan tanggapan positif penonton terhadap pertunjukan itu, mereka memperhitungkan rasa hormat dan kepekaan produksi tersebut terhadap “kedalaman” dan sifat-hakekat “ritual” atau “sakral” versi asli Bugisnya, dan waspada tentang perampasan budaya. Kalau pergelarannya mengecewakan, itu karena “kurangnya emosi” (Yuliandini 2004:18), kelemahan dalam kostum, dalam “tafsir verbal”, dalam penyajiannya yang “mirip sendratari”, dan terutama karena “tidak profesionalnya” para aktor-penari pendukungnya (Mulyadi 2004b:19).14 Ada pula kekecewaan bahwa pergelarannya tidak mencerminkan intensitas emosi: “Emosi-emosi ekstrem yang bermain dalam puisi epik itu tidak sepenuhnya digali dan dimanfaatkan oleh sutradara Robert Wilson” (Yuliandini 2004:18). Ulasan kritis dan pedas oleh sutradara dan penulis lakon Indonesia Ratna Sarumpaet bahkan lebih keras lagi. Mencari momen-momen emosi yang mendalam – misalnya ketika sang tokoh utama Sawérigading melihat saudara perempuannya buat pertama kali dan jatuh cinta – ia menulis, “tidak ada ketegangan antara passion/hasrat nekat dan kebijakan, antara daya kalbu dan daya hidup, selain seorang lelaki canggung yang mendadak terjatuh, kaget oleh kecantikan perempuan” (2004:19).

Saya pikir, kekecewaan dan cerapan tentang kedataran ini pun hasil dari ancang-ancang (pra-teks) antarbudaya pergelaran ini. Kengototan pra-pergelaran tentang keagungan epik I La Galigo, melalui pembanding-bandingannya dengan Mahabharata, membuat publik mengharap memperoleh suatu epik sejenis Mahabharata – yakni cerita yang penuh emosi, kental dengan benturan dan tegangan antara kewajiban kemasyarakatan dan gairah pribadi. Akan tetapi dalam hal ini asosiasi antarbudaya itulah yang meleset karena La Galigo memang bukan epik seperti itu. Bahwa epik ini panjang, itu sudah jelas jika kita tidak membayangkannya sebagai sesuatu yang episodik dan fragmentaris (karena, berbeda dengan Mahabharata, La Galigo tidak dan belum pernah ditulis sebagai satu kebulatan utuh). Sifat-hakekatnya memang pertama-tama liniar karena La Galigo lebih menyerupai genealogi yang sangat canggih tentang dewa dan manusia, yang menggulir secara bertahap dalam rentang waktu, tidak bergerak serentak di berbagai titik. Ia adalah cerita tentang asal-mula. Sedangkan Mahabharata adalah mengenai dharma dalam paham Hindu, dan oleh sebab itu berkisah tentang cerita-cerita yang saling berkait erat mengenai sekian banyak tokoh dan peristiwa, beserta firasat dan suratan tangan mereka, yang di situ segala perbuatan menjawab dan menggariskan perbuatan-perbuatan lain. Popularitas Mahabharata yang sudah berlangsung berabad-abad di Indonesia, dan penyajiannya dalam sekian banyak ragam seni pergelaran, visual dan sastra, sangat mewarnai harapan orang Indonesia tentang seperti apa kiranya “epik yang lebih panjang dari Mahabharata” itu nanti, dan mungkin bahkan tentang “epik” umumnya. Publik Singapura pun mengenal Mahabharata. Selain itu, sejak Brook menjadikan Mahabharata suatu ikon pergelaran antarbudaya, publik internasional juga akrab dengan penyajian epik semacam ini. Mungkin pula, harapan antarbudaya mereka terhadap “epik yang lebih besar daripada Mahabharata”, yang juga dari Asia, adalah kisahan berjenis dharma dengan kerumitan dan keluasan yang serupa.

Ancang-ancang antarbudaya secara tak terelakkan juga mempertajam fokus “orang dalam” dan “orang luar”. Betapa pun, memang justru inilah yang terutama tertegaskan oleh kata “antarbudaya” atau “interkultural” itu. Harus ada sekurangnya dua budaya yang diskrit untuk bisa menggarap sesuatu di antara keduanya, dan “pergelaran antarbudaya” memintakan perhatian kita terhadap proses ini, memancing kita untuk menyatakan dan menandai blok-blok kebudayaan itu sehubungan dengan keberadaan sebagai orang dalam dan orang luar.

Publisitas di Singapura, seperti telah saya bicarakan, mengaburkan keindonesiaan I La Galigo. Pada satu sisi, publisitas itu menekankan Sulawesi (secara umum) atau Bugis (bukannya Indonesia) sebagai sumber epik ini. Pada sisi lain, keindonesiaan itu dilokalkan sebagai “Melayu” umumnya, “Malay” dalam peristilahan di Singapura. Ini lalu diletakkan sebagai “Asia” yang diusung ke pentas “global” atau dunia “internasional”.15 Dalam ulasan-ulasan di Indonesia sesudah pergelaran di Singapura itu, dapat ditemukan ketidaknyamanan perasaan tentang soal orang dalam/orang luar itu, dan kemasgulan umum bahwa belum ada rencana (pada waktu itu) membawa pergelaran itu ke Indonesia. Ada juga kecemburuan yang nyaris tak tersembunyikan bahwa pergelaran perdananya berlangsung di negeri tetangga, Singapura, sehingga memurukkan Indonesia ke status “dunia ketiga” dengan tantangan teknologisnya, yang tak mampu memenuhi tuntutan “standar internasional” untuk garapan Wilson (lihat misalnya Suyono 2004:77). Ketika soal orang dalam/orang luar dibicarakan secara terbuka, pemilahannya dibuat sehubungan dengan gagasan yang nasionalistik yakni Indonesia versus non-Indonesia – dengan mempertimbangkan orang-orang yang terlibat dalam produksi itu sendiri maupun penyajian dan penerimaan produksi itu di “luar”. Dunia internasional berawal di batas wilayah NKRI.

Ungkapan paling lugas untuk pandangan demikian, sudah dikutip sebelum ini, ialah ulasan dari dramawan dan aktivis Sarumpaet yang menentang penyajian I La Galigo sebagai suatu epik dunia dan mempertanyakan kebanggaan orang Indonesia karena pergelaran di pentas dunia itu.

Pemahaman bahwa I La Galigo adalah milik dunia, tentu saja. Akan tetapi, bukan kebetulan Sulawesi Selatan, I La Galigo, Bugis, Luwu, berada di daratan republik ini dan bukan di daratan China, misalnya. Itulah yang membuat kita, Negara, seniman, budayawan, termasuk para agen kesenian berkewajiban menghormati I La Galigo sebagai harta bangsa tak ternilai yang harus dijaga. […]adakah I La Galigo yang dipentaskan […] sudah sepadan dengan harga mahakarya itu untuk kita banggakan? (2004:19)

Meski demikian, forum terbuka di Singapura itu menyingkapkan arus bawah lain dalam hal kepekaan tentang orang dalam/orang luar itu, yakni antara “orang Bugis” atau “orang Sulawesi” dan orang Indonesia yang tidak dari Sulawesi. Seorang perempuan dari Singapura yang berdarah Bugis dengan bangga menyatakan bahwa epik itu milik Bugis dan menyatakan hormatnya pada masyarakat Bugis (bukan Indonesia) yang menyajikan epik itu ke percaturan dunia. Dalam pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari antara hadirin, ada permintaan untuk menyebutkan “asal-usul” para pemain. Supanggah, sang komposer dan pengarah musik (yang orang Jawa) itu, diminta mengatakan asal pemusiknya (jawabnya: tujuh dari Sulawesi, dua dari Sumatra Barat, dua dari Jawa, dan satu dari Bali). Tawa berderai di antara hadirin ketika para pemusik memperkenalkan diri dan menyebutkan asal mereka masing-masing. Kenyataan bahwa mereka tidak semuanya berasal dari Sulawesi agaknya memberi angin kepada gagasan bahwa keotentikan produksi ini jadi berkurang. Dan memang beberapa teoretisi poskolonial di antara hadirin tampaknya mewaspadai apa yang diduga sebagai perampasan (apropriasi) “Indonesia” atas budaya “Sulawesi”, selain dugaan apropriasi yang dilakukan Wilson. Dalam percakapan-percakapan di lobi, dan bahkan sebelum pergelaran mulai, beberapa orang sudah menilai (secara keliru) bahwa “kebanyakan penarinya dari Bali”, suatu komentar yang diucapkan pada saya dengan nada meledek.

Di belakang layar di Indonesia pun, bahkan ketika produksinya sudah berjalan, terjadi perdebatan berapi-api tentang siapa yang dilibatkan dan tak dilibatkan dalam produksi. Hal ini tidak niscaya tertuang dalam ungkapan nasionalistik orang Indonesia lawan “orang lain”, melainkan dalam kaitan dengan siapa orang dari Sulawesi Selatan yang diundang untuk ikut dalam proyek ini – dan, lebih penting lagi, siapa yang tidak. Garis orang dalam/orang luar dibuat sehubungan dengan “orang dalam dari Sulawesi Selatan yang terlibat dalam produksi” lawan “orang luar dari Sulawesi Selatan yang tidak dilibatkan dalam produksi” di samping “orang dari Sulawesi Selatan” lawan “orang Indonesia lainnya” atau “liyan”. Tetapi polemik ini berkobar di surat-surat dan email “pribadi” dengan daftar cc yang panjang, bukan sebagai pembicaraan terbuka di media massa.

Ringkasnya, reaksi terhadap pergelaran I La Galigo di Singapura maupun Indonesia mengikuti pra-teks atau ancang-ancang antarbudaya. Maka kita saksikan betapa perhatian diberikan pada panjangnya pergelaran, keagungan epiknya, dan keagungan peristiwa pergelarannya sendiri, dan harapan (yang dikandaskan) tentang kerumitan kisahan yang mirip Mahabharata. Dan di balik reaksi-reaksi itu ialah upaya untuk menyingkap dan menyatakan unsur-unsur kebudayaan yang dinegosiasikan (di-“inter”-kan) di dalam dan oleh pergelaran itu, yang ini pada akhirnya terungkap sehubungan dengan orang-dalam dan orang-luar, entah itu Bugis/non-Bugis, Sulawesi/non-Sulawesi, Indonesia/non-Indonesia, dunia Melayu/bagian dunia lainnya, Asia/dunia atau pun Timur/Barat.

Berbagai Interkulturalisme Lain

Akan tetapi, penyederhanaan budaya ini mengaburkan budaya-budaya lain dalam dialog, pertukaran, dan penerjemahan “antarbudaya” di dalam dan di seputar produksi I La Galigo. Saya akan menyebut tiga dan memusatkan perhatian pada satu di antaranya.

Yang pertama adalah susunan antarbudaya Sulawesi Selatan sendiri. Menyebut La Galigo sebagai suatu “epik Bugis dari Sulawesi Selatan”, jika tanpa pengetahuan yang luas tentang Indonesia, mengaburkan kenyataan bahwa budaya Bugis adalah satu dari banyak budaya di Sulawesi, suatu tempat yang secara kebudayaan tidaklah homogen. La Galigo, sebagai kisahan yang dinyanyikan dan sebagian terdapat dalam bentuk tertulis, di Sulawesi Selatan penting justru sebagai penanda kebugisan (dalam hal bahasa dan tulisan serta upacara-upacara maupun penceritaan asal-mula), yang membedakan Bugis dengan orang-orang lain yang hidup berdampingan dan di tempat-tempat sekitarnya di Sulawesi Selatan dan Tengah. Sementara beberapa di antara kelompok-kelompok etnik dan tempat-tempat lain itu memiliki tradisi pengisahan sendiri untuk dongeng-dongeng tentang Sawérigading, La Galigo yang tertulis hanya dimiliki Bugis.16 Maka, di Sulawesi Selatan, mengklaim memiliki La Galigo menandai bahwa seseorang bukan orang Mandar, Makassar, atau Toraja, yang adalah kelompok-kelompok kebudayaan lainnya di sana.

Lebih lanjut, La Galigo juga diperebutkan, di kalangan orang Bugis sendiri pun, dan bahkan hingga kini. Pada abad ketujuh belas akhir, misalnya, pendeta-pendeta Bissu terpecah menjadi kubu-kubu yang berseberangan dalam perang panjang antara kerajaan Bugis Bone dan Gowa. Sejarah panjang perebutan ini – antara yang lebih ketat dan yang kurang ketat menaati ajaran Islam, antara dua kerajaan, dan sekarang antara akademisi dan institusi – merupakan satu di antara hal-hal yang ajeg sehubungan dengan epik La Galigo di dunia Bugis.

Identitas Sulawesi Selatan yang bergejolak, genting, dan mudah berubah-ubah itu menjadi kabur dalam liputan tentang produksi I La Galigo. Dengan demikian, dalam puji-pujian menyeluruh bagi musik Supanggah – meski penggunaan alat musik dan musik dari luar Sulawesi diberi catatan – pencampuran dan penjejeran musik serta alat musik dari berbagai budaya di Sulawesi sering terlewat dari perhatian. Pengulas dari Indonesia, misalnya, memuji musik Supanggah tanpa membahas berbagai unsur musik yang terkandung di dalamnya, kecuali kadang-kadang menyebut bahwa pemusiknya berasal dari Jawa, Bali, dan Sumatra Barat (lihat misalnya, Yuliandini 2004:18; Mulyadi 2004a:11; dan Suyono 2004:77).

Padahal Supanggah sendiri, dalam esai yang dicetak sebagai bagian dari perangkat keterangan pers untuk I La Galigo di Esplanade, mengungkapkan bahwa sumber-sumber musik serta alat musik dalam produksi ini dari seluruh Sulawesi – termasuk yang berkait dengan Makassar, Soppeng, Selayar dan Toraja – dan ini semua digabungkan dengan alat musik dari Jawa Tengah, Bali, dan Sumatra Barat (Supanggah 2004; Esplanade 2004a:18-19). Dalam diskusi terbuka pada forum di Singapura itu, Supanggah mengatakan pula bahwa publik sering tidak dapat membedakan antara bagian-bagian dari lagu dan musik tradisional dengan bagian-bagian yang merupakan gubahan Supanggah sendiri (dan sebaliknya). Dengan kata lain, sejauh yang menyangkut musiknya, publik tahu bahwa ada sesuatu yang antarbudaya sedang berlangsung di sana, tetapi sering menangkap dan menyatakannya secara garis besar saja (musik tradisional dan gubahan Supanggah sendiri; musik Sulawesi dan musik Indonesia lainnya; unsur musik Timur dan unsur musik Barat, dan sebagainya). Ini karena publik tidak dapat menandai berbagai musik Sulawesi satu-persatu, dan tidak menyadari kepiawaian Supanggah meramu semuanya itu untuk menciptakan “unsur Sulawesi” yang lintas-budaya.

Unsur lintas-budaya kedua yang dikaburkan oleh pra-teks atau ancang-ancang pencerapan publik atas produksi I La Galigo ialah dialog antara budaya Islam dan budaya bukan-Islam atau pra-Islam, yang terdapat di dalam dan seputar La Galigo di Sulawesi Selatan. Produksi I La Galigo menekankan keantikan pra-Islam naskahnya, yang berarti menekankan watak non-sinkretiknya dengan Islam, sebagai suatu faktor keotentikan Bugis. Produksinya berhati-hati menghindari unsur Islami dalam pemanggungan dan ini dinyatakan secara eksplisit, misalnya dalam pemilihan Supanggah atas alat musik yang digunakan. Tetapi La Galigo, pendeta-pendetanya dan upacara-upacaranya, sudah hidup berdampingan, meski merapuh, dengan Islam di Sulawesi sejak sekurangnya awal abad ketujuh belas. Terkadang, tegangan antara ortodoksi keagamaan dan dunia “pra-Islam” meletup menjadi kekerasan, dengan ke-“pra-Islam-an” ditetapkan sebagai bid’ah atau takhayul. Dalam sejarah mutakhir, ini terjadi secara sangat dahsyat semasa pemberontakan separatis Darul Islam tahun 1950an, yang menyatakan Sulawesi Selatan sebagai negara Islam (bergabung dengan gerakan yang sama di Aceh dan Jawa Barat). Naskah-naskah tulisan tangan La Galigo, yang dipandang sebagai bid’ah, dibakari. Para pendeta Bissu dibunuh atau dipaksa mengubah nama mereka serta cara mereka berpakaian. Maka di wilayah Sulawesi Selatan Bissu telah belajar bernegosiasi antara kedua budaya itu, dan beberapa Bissu bahkan menunaikan ibadah haji dan memasang gelar “Haji” di depan nama mereka.

Selain itu, epik itu sendiri juga menegosiasikan kedua dunia tersebut. Tidak ada versi atau teks tunggal La Galigo. La Galigo ada sebagai fragmen-fragmen yang ditulis-ulang, diolah-ulang, dan disalin-ulang, dan di antara manuskrip yang ada tidak satu pun berasal dari masa sebelum abad kedelapan belas (Koolhof [1999] 2003:25 catatan kaki 12). Penulisannya, dari tradisi yang sepenuhnya lisan sebelumnya, terjadi lebih belakangan daripada abad keempat belas yang dianggap sebagai masa kemunculan asali epik ini, dan penulisan yang menerus dari masa ke masa memasukkan unsur-unsur yang datang lebih belakangan, termasuk Islam.17 Sebagai dikemukakan Salim, penerjemah mashur yang mengalihbahasakan I La Galigo ke bahasa Indonesia, beberapa versi epik ini bahkan memuat episoda-episoda yang menceritakan perjalanan sang tokoh utama Sawérigading ke Mekkah (dalam Suyono 2003c).18 Meskipun disebut dalam bahan publisitas pergelaran I La Galigo, hal ini tidak ditonjolkan – atau, mungkin lebih tepatnya, fakta-fakta itu tertelan oleh ungkapan yang menekankan “kemurnian kultural” epik Bugis ini sebagai “pra-Islam”.

Demikian pula, penghargaan terhadap ketrampilan pelestarian diri para Bissu dalam menegosiasikan tempat mereka antara budaya Islam dan bukan-Islam tidak lalu diterapkan pada produksi teatrikalnya. Karena, bagaimana pun juga, I La Galigo digarap dan dibentuk di dalam realitas politik Indonesia masa kini, yang di situ masyarakat serta politik semakin terbingkaikan dalam kaitan dengan agama, dan kelompok kanan Islam merupakan kekuatan yang patut diperhitungkan. Di Indonesia masa kini, pencarian kedudukan yang aman sebagai non-Islami, atau non-ortodoks, atau “pra-Islami”, jelas terbantu oleh persekutuan dengan dunia “internasional”-nya “pergelaran antarbudaya”. Dan fakta ini tentu sangat disadari oleh para Bissu.

Interkulturalisme ketiga yang ingin saya kemukakan (dan yang saya pikir dikaburkan oleh segala publisitas yang ‘wah’ tentang pergelaran lintas-budaya) khusus berlaku untuk “I La Galigo Robert Wilson”. Yang saya maksud ialah pergerakan antara, atau penerjemahan dari, suatu budaya tekstual dan aural-oral (dengaran-lisan) dan/ke pergelaran lihatan.

Seperti diberitahukan dalam teks pra-pergelarannya, La Galigo adalah epik yang berasal dari masa sekitar abad keempat belas, yang hadir pertama kalinya dalam bentuk lisan dan kemudian baru dituliskan, disalin, dan disalin-ulang, tak pernah sebagai satu keutuhan bulat melainkan selalu sebagai episoda lepas-lepas. Sebelum I La Galigo Robert Wilson ini, dan hingga sekarang pun, satu-satunya unsur pergelaran pada epik ini adalah bahwa ia dinyanyikan, oleh pendeta-pendeta Bissu pada masa sekarang, tetapi pada masa sebelumnya oleh penyanyi-baca “resmi” yang disebut passureq atau pallontarag yang bukan Bissu. La Galigo merupakan tradisi kisahan yang dinyanyikan dan tidak memiliki wujud pergelaran lain apa pun di Sulawesi. Seperti dinyatakan oleh sarjana mashur Fachruddin Ambo Enre, La Galigo diwariskan dalam tiga bentuk: sebagai teks sastra, sebagai genealogi raja yang tertuang dalam wujud babad (chronicle), dan sebagai tradisi lisan yang berkait dengan ciri-ciri menonjol tertentu dalam bentang alam (dalam Esplanade 2004a:3).

Maka, di Sulawesi, tokoh-tokoh dalam epik La Galigo tidak memiliki sosok lihatan untuk pergelaran, dan suara yang terpatok untuk satu-persatu individu tokoh pun tidak ada. Yang ada hanyalah anganan atau bayangan gerak atau suara yang diperkaitkan dengan tokoh-tokoh itu. Tidak seperti Mahabharata atau Ramayana, yang luas dikenal di seluruh Asia Tenggara (termasuk Jawa dan Bali di Indonesia) lewat pergelaran di tempat pertama dan baru lewat teks di tempat kedua, La Galigo justru di tempat pertama dikenal sebagai teks yang dimadahkan atau kisahan yang dinyanyikan. Dan waktu dimadahkan atau dinyanyikan itu, suara juru kisah dan suara para tokoh cerita semuanya terdengar sama. Kesamaan ini tertonjolkan dengan metrum lima suku kata yang ketat dan kekunoan bahasanya yang seragam. Ini berbeda sepenuhnya dengan Mahabharata atau Ramayana, yang tokoh-tokohnya disampaikan secara lihatan dalam pergelaran, lagipula busana, gerak serta wicara mereka sudah terlokalkan, dan sudah merasuk ke dalam ingatan lihatan dan dengaran orang. Untuk seorang Jawa, misalnya, Arjuna India atau Rama Thailand kelihatan dan kedengaran asing. Orang sudah melokalkan harapan lihatan dan dengaran mereka terhadap tokoh-tokoh itu.

Akan tetapi La Galigo tidak memiliki tradisi pergelaran lihatan semacam itu. Orang Bugis atau Sulawesi Selatan mungkin saja membuat patung-patung Sawérigading dalam “busana Bugis” yang ditempatkan di alun-alun kota atau semacamnya, namun tidak ada perwujudan tarian atau drama yang memperlihatkan tokoh itu dalam gerak, atau dalam busana yang berbeda-beda, atau sedang berbicara. Orang mengangankan, membayangkan, bagaimana tampang tokoh itu, bagaimana gerak-geriknya, dan bagaimana suaranya – sama dengan yang orang lakukan untuk toko-tokoh lain epik ini.

Maka yang merupakan inovasi nyata “I La Galigo Robert Wilson” ialah menerjemah garis besar epik ini (yang dipandang sebagai suatu kebulatan) ke dalam bentuk pergelaran lihatan, dan ini sama barunya bagi orang Sulawesi Selatan maupun kalangan penonton di Singapura dan tempat-tempat lain. Memang unsur-unsur gerak, musik, dan kostum dalam produksi ini diambil dari atau diilhami oleh gerak, tari, musik dan busana Bugis, tetapi hal-hal itu sendiri tidak berhubungan dengan “tradisi pergelaran” La Galigo apa pun juga. Alih-alih, hal-hal itu adalah perbendaharaan ungkapan yang dihimpun dan dirakit untuk menciptakan pergelaran tersebut. Kenyataan ini agaknya terlewat dari perhatian bahkan para komentator Indonesia terhadap pergelaran itu, yang, seperti telah saya katakan, menemukan kelemahan dalam unsur-unsur lihatan yang berkaitan dengan penokohan (gestur tari, kostum) yang lemah, tetapi sama sekali tidak menyebut-sebut bahwa penggunaan unsur-unsur itu untuk melukiskan La Galigo yang disampaikan secara lihatan adalah sesuatu yang baru.19 Unsur-unsur musik dalam produksi ini juga tidak memiliki hubungan langsung dengan tradisi pergelaran La Galigo – dan, sesungguhnyalah, bahkan madah yang dilantunkan oleh pendeta Bissu (sejati) Puang Matoa Saidi dalam pergelaran pun sama sekali bukan madah dari La Galigo melainkan dari doa-doa dalam upacara.

Fakta bahwa I La Galigo Wilson ialah penyampaian visual pertama (suatu tafsir atas) seluruh epik Bugis itu dalam wujud pergelaran, melengserkan pembicaraan tentang representasi dalam kaitan dengan orang-dalam dan orang-luar dalam pergelaran antarbudaya. Atau, sekurangnya, fakta itu semestinya membatasi cakupan dan keabsahan pembicaraan demikian. Karena produksi ini bukan representasi epik yang sudah secara lokal disajikan dalam wujud pergelaran, berkuranglah landasan untuk mendakwa bahwa produksi ini “tidak betul” atau telah “menyerobot, merampas tradisi La Galigo”. Atau, sekurangnya, pembicaraan sungguh-sungguh hanya bisa bergerak di bidang perdebatan umum tentang perlakuan terhadap teks sakral oleh orang luar, dan apakah produksi ini sudah atau belum betul dalam soal ini. Inilah yang terutama disasar oleh Sarumpaet dalam kritiknya. Seperti telah dicatat sebelumnya, beberapa komentator Indonesia mengungkapkan kekecewaan tentang gerak dan kostum, dan “kedataran” pergelaran, tetapi mereka membuat pembandingan berdasarkan keakraban mereka dengan seni pergelaran Indonesia lainnya sebagai tradisi kisahan yang divisualkan, karena La Galigo sendiri tidak memiliki tradisi demikian.

Maka ujian yang barangkali paling menarik tentang bagaimana penerimaan atau penolakan terhadap produksi Wilson ini sebagai suatu produksi antarbudaya pastilah terjadi ketika berbagai publik di Sulawesi Selatan menonton pergelarannya. Karena berbeda dengan publik-publik di tempat-tempat lain, mereka sungguh memiliki kerangka acuan imajinatif tertentu untuk epik ini, tetapi, berbeda dengan publik di tempat-tempat lain, mereka mengerti bahwa mereka tidak punya kerangka acuan yang bersifat lihatan. Reaksi mereka terhadap representasi pergelaran untuk sesuatu yang selama ini hanya mereka angankan wujud lihatan dan kinetiknya, mungkin dapat menegaskan sukses (atau tidaknya) interaksi antara suatu budaya dengaran/tekstual dan suatu budaya lihatan. Akan tetapi, di sini pun pembingkaian cerapan antarbudaya terhadap pergelaran ini telah mendahuluinya, yakni melalui segala publisitas dan ulasan Indonesia tentang pergelaran-pergelaran sebelumnya di berbagai tempat lain. Pembingkaian antarbudaya itu sudah terlanjur ada dan memengaruhi orang. Selain itu, sedihnya, publik di Sulawesi Selatan tidak akan menonton produksi Wilson yang sama dengan yang ditonton publik di Singapura, New York, Jakarta, dan tempat-tempat lain: pernah ada rencana untuk membawa pergelaran ini ke Makassar, tetapi bentuknya dimodifikasi karena di sana tidak ada tempat pergelaran yang dapat memenuhi tuntutan teknis tata cahaya Wilson. Meski demikian, kalau pun terjadi, penerimaan di sana terhadap pergelaran yang dimodifikasi itu mungkin akan dapat menyingkap segi-segi lain interkulturalisme yang justru akan diperjelas manakala penonton tidak begitu silau oleh tata-cahaya Wilson dan wacana antarbudaya.

Landung Simatupang, penyair, sutradara teater, pembaca sastra, pelatih seni peran, pembimbing lokakarya dan penerjemah papan atas. Dapat dihubungi di roosyanto@yahoo.com

Acuan

Andaya, Leonard

2004 “The La Galigo Epic beyond South Sulawesi.” Makalah disampaikan pada Forum I La Galigo, Esplanade, Singapura, 13 Maret.

Arsuka, Nirwan Ahmad

2004 “I La Galigo dan Waktu Batu: Genesis di atas Pentas”. Kompas, 3 Oktober: 18.

Bianpoen, Carla

2004a “I La Galigo: The Women Behind its International Acclaim.” Jakarta Post, 22 Februari:14.

2004b “Ancient Bugis Odyssey Begins its Modern Journey.” Jakarta Post, 7 Maret:18.

Darling, Diana

2004 “I La Galigo: The Book on Stage.” Special issue, I La Galigo, Latitudes 37, Februari:34-42.

Dollar, Steve

2005 “Odyssey of an Odyssey.” Newsday.com, 13 Juli. http://www.newsday.com (23 Juli).

Esplanade

2004a Perangkat keterangan pers terbitan 12 Januari sebelum pergelaran perdana dunia I La Galigo, yang disajikan di Esplanade Singapura tanggal 12 Maret; disutradarai Robert Wilson, dengan koordinasi artistik oleh Restu Kusumaningrum, dan adaptasi teks dan dramaturgi oleh Rhoda Grauer. Singapura: Esplanade.

2004b Buklet pergelaran perdana dunia. Singapura: Esplanade.

2004c Iklan pergelaran perdana dunia I La Galigo. Straits Times, 12 Maret :L12-13.

Grauer, Rhoda

2005 The Last Bissu: Sacred Transvestites of South Sulawesi, Indonesia. Jakarta: Shanty Harmyn, Alto Productions.

Koolhof, Sirtjo

2003[1999] “The La Galigo: A Bugis Encyclopedia and Its Growth.” Dalam La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, disunting oleh Nurhyati Rahman dkk., 3-33. Makassar: Pusat Studi La Galigo. Diterbitkan pertama kali tahun 1999 oleh Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 155, 3:362-87.

Kristeva, Julia

1984 [1974] Revolution in Poetic Language. Terjemahan Margaret Waller. New York: Columbia University Press.

Latitudes

2004 Special issue, I La Galigo, Latitudes 37, Februari.

Mulyadi, Efix

2004a “I La Galigo, Sejarah Baru Indonesia”. Kompas, 14 Maret:1, 11.

2004b “ ‘I La Galigo,’ dari Luwu ke Lincoln Center”. Kompas, 21 Maret: 19.

Pavis Patrice

1996 The Intercultural Performance Reader. New York: Routledge.

Prasad Ugoran

2006 “I La Galigo Robert Wilson dan Taman Mini”. LèBur Theatre Quarterly (Yogyakarta) 4 (Januari):91-97.

Sarumpaet, Ratna

2004 “’I La Galigo’: Panggung Megah, Miskin Makna”. Kompas, 21 Maret:19.

1983 “Keynote Address.” Konferensi tentang Tradisi Tari India dan Teater Modern, 2-10 Januari, Kala Mandir, Calcutta.

1984 “A Reply to Rustom Bharucha.” Asian Theatre Journal 1, 2:245-53.

1991 “An Intercultural Primer.” American Theatre, Oktober:28-31, 135-36.

2006 Performance Studies: An Introduction, edisi kedua. New York: Routledge.

Smith, Ken

2004 “I La Galigo: Esplanade Theatre Singapore.” Financial Times, 16 Maret:10.

2005 “Visions of Creation.” Playbill, 12-31 Juli:8-14.

Straits Times

2004 “Bugis Village.” Straits Times, 11 Maret:L1.

Supanggah, Rahayu

2004 “About the Music.” Dalam perangkat keterangan pers untuk I La Galigo, 18-19. Singapura: Esplanade.

Suyono, Seno Joko

2003a “Wilson, La Galigo dan Purnati.” Tempo, 5 Januri:158-60.

2003b “Penting ‘La Galigo’ di Barcelona.” Tempo, 14 September:106.

2003c “Jalan Panjang Sebuah Naskah.” Tempo, 14 September:107.

2004 “La Galigo, Kisah Cinta di Singapura.” Tempo, 28 Maret:76-77.

Tan Shzr Ee

2004a “Right up Bugis Street.” Straits Times, 11 Maret:L3-4.

2004b “A Myth Sees the Light.” Straits Times, 15 Maret:L4-5.

Tol, Roger

2003 “Pengembaraan La Galigo ke Washington DC.” Dalam La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, penyunting: Nurhyati Rahman dkk., 59-78. Makassar: Pusat Studi La Galigo.

Yuliandini, Tantri

2004 “Galigo Colorful, But Lacks Emotion.” Jakarta Post, 19 Maret:18.


1 Dalam suatu wawancara dengan Patrice Pavis, Richard Schechner ingat:

Saya kira saya mulai menggunakan [istilah “interculturalism”] di awal atau pertengahan 1970an, waktu saya menyunting suatu pokok pembicaraan khusus mengenai ilmu-ilmu sosial dalam The Drama Review. Waktu itu saya menggunakannya sebagai kontras untuk “internationalism.” Maksud saya, ada banyak pertukaran nasional, tetapi saya rasa pertukaran yang nyata-nyata penting untuk seniman bukanlah pertukaran di antara bangsa-bangsa, nations, yang sebetulnya menyaran pada pertukaran resmi dan jenis-jenis batas yang artifisial, melainkan pertukaran di kalangan budaya-budaya, sesuatu yang dapat dilakukan oleh perseorangan, atau oleh kelompok tak-resmi, serta tidak menaati batas-batas kewilayahan nasional. (dalam Pavis 1996:42)

Periksa juga Schechner: “Here we are: North & South, East & West. This is more of an intercultural meeting than an international one” (dalam Schechner [1983] 1984:252).

2 Film Rhoda Grauer ini ialah The Last Bissu: Sacred Transvestites of South Sulawesi, Indonesia (2005).

3 Mantra ini sudah ada sebelum pergelaran Robert Wilson, sebagai bagian dari bahasa para pakar dan pengkaji La Galigo.

4 Esplanade – Theatres on the Bay brings to life Asia’s greatest literary find in recent history- the Sureq Galigo, an epic poem of the Bugis people of South Sulawesi – in a theatre, dance and music production of I La Galigo, designed and directed by acclaimed master of the theatre Robert Wilson.

5 The significance of I La Galigo lies not just in the work itself, but in the employment of modern theatre staging techniques that have made such an important text accessible. (2004a:5)

6 Justru karena hubungan Bugis-Singapura inilah, sebagai yang dikemukakan Roger Tol dalam presentasinya di forum, beberapa naskah La Galigo Bugis akhirnya sampai ke Amerika Serikat. Naskah-naskah itu dibeli Kapten Charles Wilkins tahun 1842. Periksa pula tulisan Tol, “Pengembaraan La Galigo ke Washington DC” (2003).

7“The debut of this significant Asian epic provokes intercultural dialogue,’ said Benson Puah, CEO of Esplanade.” Dan “Asia and in particular South-East Asia has a long and rich history, with a wealth of folk tales, myths and legends which the world has yet to discover.” (Esplanade 2004a:5).

8 looks to merge the traditions of the Bugis people with Wilson’s unique contemporary and visionary theatrical language” (Esplanade 2004a:6).

9 the first time that this poetic heritage of the proud Bugis people of South Sulawesi will be taken out of the country for a contemporary staging” (2004a:14).

10 I couldn’t get I La Galigo out of my mind. I wanted to do something – something big, that could bring attention to this incredible text […] Wilson is internationally acclaimed for his epic style of avantgarde theatre. His visual genius would be particularly appropriate for the magical images in La Galigo. (2004:36)

11 Para pembicara itu ialah Professor Anthony Reid, direktur Asia Research Institute, National University of Singapore; Dr. Roger Tol, direktur KITLV-Jakarta; Sirtjo Koolhof, kepala Perpustakaan KITLV, Belanda; Mohammad Salim, penerjemah Sureq Galigo; Dr. Ian Caldwell, University of Leeds; Profesor Leonard Andaya, University of Hawai’i; Profesor Rahayu Supanggah, komposer; Restu Kusumaningrum, koordinator artistik I La Galigo; Rhoda Grauer, dramaturg; Andi Ummu Tunru, anggota dewan penasehat; Puang Matoa Saidi, anggota dewan penasehat dan pimpinan komunitas Bissu di Segeri.

12 Periksa pula ulasan Ken Smith dalam Financial Times. “Andaikan, orang sangat segan mengakui ini, ada ruang untuk menjadi lebih Wilson dalam pementasan ini”, tulisnya, “I La Galigo sebagaimana adanya akan menjadi etalase yang leluasa dan memadai bagi para pemain” (“If, one shudders to admit, there was room for more Wilson in the production, I La Galigo as it stood provided an ample showcase for the cast.”) (2004:10).

13 So, thank God for the superb score by Rahayu Supanggah and friends, the strongest suit of the production. Honed through work in the field as an ethnomusicologist, and also in collaborations with Peter Brook and Ong Keng Sen, the composer turned his team of singers and instrumentalists into twisting vocal strands and a racket of pre-Islamic rhythms, textures, and effects. (L5)

14 “Wiwiek Supala [sic], koreografer dan pengajar di IKJ, mempersoalkan konsep pertunjukan. Nungki Kusumastuti, penari dan pengajar di IKJ, kecewa dengan kemampuan para aktor/penari dan tafsir verbal sejumlah adegan. Seorang dramawan melihatnya hanya mirip “sendratari”, beberapa kagok dengan kostum, yang lain menganggap propertinya kekanak-kanakan. Ada pula yang menganggap Robert Wilson dan timnya tidak mampu mengungkap kedalaman kisah I La Galigo. Mesikipun demikian, semua sepakat bahwa musik garapan Rahayu Supanggah bagus dan berkarakter kuat.” Efix Mulyadi. 2004b.

15 Kebingungan atau pencampuradukan lain tentang asal-mula tampak jelas dalam laporan wawancara dengan Wilson sendiri, menjelang pergelaran 25 Juli di New York. Kadang-kadang bahasa yang digunakannya adalah “Timur” lawan “Barat”, dan terkadang tidak jelas “tradisi” pergelaran mana atau “orang-orang” mana dari kepulauan Indonesia yang sedang dirujuk Wilson:

In a way, I see I La Galigo as a certain affirmation of my work […] In this tradition [sic] acting begins with the body, not the voice, which is in some ways closer to what my work is about than working with actors in the West.

(Dalam hal tertentu, saya melihat I La Galigo sebagai afirmasi tertentu atas karya saya […] Dalam tradisi ini [sic] akting atau pemeranan bermula dengan tubuh, bukan suara, yang dalam berbagai segi lebih dekat dengan watak garapan saya ketimbang jika saya bekerja dengan aktor-aktor di Barat.) (dalam Smith 2005:10)

Dan dalam suatu wawancara telepon lain dengan seorang reporter:

These people [sic] have a theatrical language of gesture and movement that is pretty much lost in Western theatre […] Many of them don’t speak English, but that was never a problem. Some of the work in rice fields or whatever, but they dance in the evenings. It’s second nature to them.

(Orang-orang ini [sic] memiliki bahasa teatrikal berupa gestur dan gerak yang sudah banyak yang hilang dalam teater Barat […] Banyak dari mereka tidak dapat berbicara bahasa Inggris, tetapi itu tidak pernah menjadi masalah. Beberapa di antara mereka bekerja di sawah atau bekerja apa pun lainnya, tetapi malamnya mereka menari. Itu bagian yang tak terpisahkan lagi dari diri mereka.) (dalam Dollar 2005)

16 Berbagai versi kisahan juga dituturkan di dunia Melayu, sebagai yang dibahas dalam penyajian Andaya di forum diskusi di Singapura (2004).

17 Sirtjo Koolhof ([1999] 2003) memberanikan diri menyimpulkan bahwa seluruh episoda tentang asal-mula padi (yang dimasukkan dalam produksi Wilson) baru belakangan ditambahkan pada seluruh himpunan La Galigo, meskipun ini tidak terkait dengan Islam. Akan tetapi episoda-episoda yang melukiskan penguburan orang meninggal, alih-alih pembakaran jasad, memberi petunjuk tentang penggarapan-ulang pasca-Islam.

18 Koolhof menulis pula:

The conversion to Islam also brought about an extra story at the end of the work. […] There exist a considerable number of manuscripts that describe how Sawérigading, after having descended to the Underworld, became ruler over the realm. He then predicts that as soon as he has finished writing the Kitaq Porokani (Al-Furquan – Qur’an), he will travel to Labuq Tikkaq, “the land of the setting sun”, and land there together with his five servants. He will have undergone a metamorphosis and the people will not recognize him, but they must accept his teaching, laid down in the Kitaq Porokoni. Although his name is not mentioned, it is clear that Sawérigading fortells his reincarnation as the prophet Muhammad, and in fact sanctions “the conversion of ‘his’ people to Islam”.

(Perpindahan ke agama Islam juga memunculkan satu cerita tambahan pada akhir karya ini. […] Ada cukup banyak naskah yang menggambarkan bagaimana Sawérigading, setelah turun ke Dunia Bawah, menjadi penguasa di ranah itu. Kemudian ia meramalkan bahwa begitu ia selesai menulis Kitaq Porokani (Al-Furqan – Qur’an), ia akan pergi ke Labuq Tikaqq, “negeri matahari terbenam,” dan mendarat di sana bersama lima abdinya. Ia akan beralih rupa dan tak dikenali rakyatnya, tetapi mereka harus menerima ajarannya yang termuat dalam Kitaq Porokoni itu. Meski namanya tidak disebutkan, jelas Sawérigading meramalkan reinkarnasinya sebagai Nabi Muhammad, dan memperkenankan “’rakyat’-nya berpindah memeluk Islam”.) (2003:24-25)

19 Ada satu perkecualian, yaitu komentar singkat Nirwan Ahmad Arsuka dalam tulisannya di Kompas tentang sebuah pergelaran lain, Waktu Batu, oleh kelompok teater dari Yogyakarta, Garasi. Ketika membandingkannya dengan I La Galigo Wilson, Arsuka menyebut “visualisasi mitos itu di panggung” oleh Wilson (2004:18).


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: