Seni Pertunjukan

November 28, 2007

Teater Segala yang Mungkin

Dari Multikulturalisme hingga Kemenduaan Teater Indonesia

Radhar Panca Dahana

Lebih dua dekade belakangan ini, diskusi teater―juga wacana-wacana intelektual lainnya―di berbagai belahan dunia, dihangatkan oleh pembicaraan mengenai multikulturalisme, sebagai cara berpikir, modus kerja atau kreatif. Namun, apa yang kemudian muncul dan dihasilkan dalam perbincangan ramai itu? Sebagian orang, entah pengamat, praktisi, atau akademisi, menyatakan hanya kesimpangsiuran yang kita dapat. Sebagian lain mengatakan perbincangan itu hanyalah kegenitan intelektual yang tak berhasil menyentuh problem praktis dan keseharian dari kerja teater itu sendiri. Erika Fischer-Lichte dengan gamang mempersoalkan “kegenitan” itu, karena belum bisa membuahkan satu skema berpikir yang adekuat, dan menurutnya, “terlalu tergesa untuk mengajukan sebuah teori global tentang interkulturalisme teater.”[1] Sementara Patrice Pavis memandang perbincangan ramai ini belum juga berhasil menemukan identitas masalahnya yang tegas. Yang terjadi adalah perdebatan sumir yang “tinggal sebagai pucuk dari gunung es.” [2]

Read the rest of this entry »

Seni Pertunjukan

November 4, 2007

Harapan-harapan “Intercultural”:

I La Galigo di Singapura

Jennifer Lindsay

Penerjemah: Landung Simatupang

The Drama Review – Volume 51, Number 2 (T 194), Summer 2007, pp. 60-75

Markah

I La Galigo – pergelaran teater yang disutradarai Robert Wilson dan diilhami cerita epik dari Sulawesi, Indonesia, yang diperdanakan tahun 2003 di Singapura dan kemudian dikelilingkan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

I La Galigo – pergelaran epik Bugis La Galigo, dengan musik yang digubah dan diaransemen oleh Rahayu Supanggah; koreografi oleh Andi Ummu Tunru; nyanyian oleh pendeta Bissu, Puang Matoa Saidi; pelaku pergelaran dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Bali; dan disutradarai oleh sutradara tenar dari Amerika, yang dipentaskan di Jakarta Desember 2005 setelah mula-mula disajikan di berbagai tempat di luar negeri.

Read the rest of this entry »