Seni Rupa

October 11, 2007

Mengukir “Jejak” di Negeri Tetangga

Kurnia Effendi

Dua puluh tiga perupa dari negeri jiran, Malaysia, berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia (Galnas), Jakarta. Berlangsung sejak tanggal 10 sampai 20 September 2007. Pameran yang mengambil judul Jejak merupakan pencanangan tekad para seniman yang tergabung dalam lembaga Balai Seni Lukis Negara (BSLN) menuju Wawasan 2020, saat Malaysia memproklamirkan diri sebagai Negara Maju dan menjadi pusat Multimedia Super Corridor (MSC).

Menarik untuk disimak, karya mereka telah mengikuti gelombang senirupa yang sangat terpengaruh oleh teknologi multimedia. Masing-masing dengan karakter penciptaan yang berusaha terlibat dengan kondisi sosial di sekitar kehidupan mereka, isu global, dan demam industri yang marak di mana-mana. Misalnya dalam karya grafis yang satiris, Ahmad Fuad Osman melakukan permak terhadap perwajahan majalah kelas dunia: Time menjadi “Item”, dan Newsweek menjadi “Newsweak”. Mengalir bersama Osman, Roalisham Ismail juga menggarap poster yang mengangkat kebudayaan massa, di antaranya pengaruh televisi sebagai gerakan pop yang mendunia.

Tak beda dengan para perupa Indonesia, dengan kebebasan yang mungkin juga sama, mereka bukan sekadar murni berkarya. Selalu ada pesan yang termaktub dalam desain atau goresan, sehingga yang tampil dalam kanvas atau karya instalasi dapat dilihat secara multitafsir. Gambar Chan Kok Hooi misalnya, ada metafora dan personifikasi yang rumit melalui bahasa rupa. Sejalan dengan Ilham Fadhli bin Mohd Shaimy dengan lukisan yang mengingatkan kita akan bahaya polusi terhadap lingkungan hidup.

Beberapa perupa mengambil bidang trimatra untuk menyampaikan gagasannya. Boleh jadi ini digolongkan dalam karya seni patung, meskipun kini ide yang menggunakan “jalan” instalasi telah dengan sendirinya menjembatani yang dwimatra dan trimatra. Kelebihan dari penyampaian bahasa rupa menggunakan bentuk tiga dimensi adalah kebebasan arah memandang, ketika dua dimensi asyik ”menyembunyikan” sesuatu yang berada di sebaliknya.

Azahari Khalip cukup orisinal dalam menyajikan gaya karikatur tentang manusia dengan karakter yang menonjol, melalui sindiran lucu (parodi). Ia telah memberi cap kepada golongan masyarakat dengan istilah yang menggelitik dan bentuk yang tak kalah humoris. ”Mr Trumpet”, ”Axe Man”, ”Capati Man”, dan ”Mr. Espionage”, telah menunjukkan jati diri masing-masing golongan manusia yang langsung tertangkap oleh mata kita. Dalam masyarakat Malaysia hal itu menggambarkan profesi atau pekerjaan seperti para penjual roti dan es krim, para pembalak, pembuat capati, dan pencari kayu api.

Sementara Mohd Saharuddin Supar memilih materi tembaga untuk mengilustrasikan problem kita bersama terhadap tekanan hidup manusia. Dengan karyanya, Saharuddin mengajak kita untuk introspeksi, misalnya pada bola gepeng yang menyerupai piring terbang dengan sebuah lubang untuk mengintip yang diberi judul ”Melihat ke Dalam”, memancing kita untuk benar-benar mengintai. Tentu tak ada apa-apa di sana selain rongga kosong, karena pada dasarnya sang seniman mengisyaratkan kepada kita untuk melihat hati masing-masing. Lebih jauh lagi, kita dapat memaknai ”anjuran”nya itu untuk selalu menyelesaikan setiap masalah melalui diri sendiri. Seruwet apa pun persoalan, datang dan pergi, bermula dan harus dituntaskan dengan melibatkan kejujuran diri.

Secara keseluruhan, karya-karya yang tampil memang sedang merayakan upaya mencapai jati diri masing-masing perupa. Dengan pilihannya sendiri, setiap seniman berusaha bicara dalam bahasa yang dikuasainya. Imaji-imaji pop dalam ”Last Suffer” karya Ili Farhana, yang mempertemukan antara manusia super Batman dan Robin, presiden Amerika berkepala tengkorak, tokoh kartun Tom dan Jerry, Kolonel Sanders pencipta resep ayam tepung Kentucky, dan seorang badut sirkus, dalam sebuah meja jamuan makan; tentu tak lepas dari maksud kritik sosial. Boleh jadi sang pelukis hendak mengatakan bahwa dunia saat ini sedang digenggam oleh kaum kapitalis yang merujuk pada kekuatan Amerika Serikat.

Barangkali karena saya hobi mengumpulkan kartu pos, tatapan saya langsung tertarik pada deretan lukisan mini yang ditera di atas kartu pos. Tan Nan See menunjukkan ketelatenan luar biasa dengan ukuran-ukuran mungil, bahkan mempergunakan bingkai sebagai varian estetika. Kepiawaian menggunakan kuas dan pena dengan ukuran mini tentu tak dimiliki setiap pelukis. Mengingatkan pada hasil karya yang kerap digunakan oleh UNICEF untuk mengambil simpati warganegara dunia membantu anak cacat.

Sebaliknya, kibasan kuas besar yang membentuk ekspresi kuat sebuah wajah dipresentasikan oleh Chong Siew Ying. Melalui sapuan kasar—terasa indah dipandang dari kejauhan—Chong mengingatkan gaya lukis poster bioskop. Namun tampak demikian efektif dia memberi arah kuas, dengan serabut yang memperkuat perasaan pemilik wajah. Ada semacam gairah yang muncul dari rasa sakit, sebuah proses perjalanan perjuangan mencapai kemenangan dalan ”The Champion”. Kiranya Chong sedang menggambar mood dengan cara dua dimensi.

Selain karya-karya dua dimensi dan tiga dimensi yang diam, ada pula yang menampilkan gambar bergerak dengan medium video. Demikianlah, karya filmis pun menjadi bagian dari seni rupa dewasa ini. Kamal Sibran yang terus-menerus istikomah dengan hasil terokanya di bidang video, memamerkan ”Sonic Cosmic” dan ”Jeri’s Robot”. Pembuatannya cukup rumit, memadukan unsur suara dan gambar, serta melakukan pelbagai eksploitasi. Berbeda dengan semua perupa yang membutuhkan ruang terang, Kamal justru memerlukan rongga yang gelap.

Tentu tak semua dibahas di sini, namun dapat dipuji bahwa sang kurator telah bekerja sangat selektif hingga yang dipamerkan merupakan pilihan dari pelbagai cara ungkap, materi, dan teknik. Ada fotografi, geometrik yang tekstural, medium tiga dimensi, dan eksperimen penggunaan cat dalam sebuah rangkaian komposisi. Bahkan Umibaizurah Mahir sengaja membuat hiasan manis dengan puluhan kapal terbang mungil yang terbuat dari porselen, terlihat cukup dekoratif.

Angkatan muda yang merupakan masa depan senirupawan Malaysia ini sudah selayaknya dicatat sebagai pengukir jejak. Maka tema ”Jejak” dipilih sebagai satu gambaran berawalnya era baru dalam seni rupa Malaysia ke depan. Segala yang terjadi dan berkembang di tanah air dan budaya mereka dapat dilihat dari karya-karya yang terpamer. Setidaknya mereka telah mengalami pergulatan pemikiran dengan para seniornya sebagai proses yang lumrah dalam membentuk jati diri. ***

Kurnia Effendi, sastrawan, eksekutif korporasi dan blogger aktif.

Versi lebih ringkas dari tulisan ini dimuat di http://sepanjangbraga.blogspot.com/

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: