Seni Sastra

October 3, 2007

Menuju Simurgh: Malam Rumi & Attar

Bonardo Maulana W


Ketika ditanya untuk terbang melalui tujuh lembah demi mencari sesosok pemimpin, burung merak mendengus cemas, “Aku tak ingin mati dalam perjalanan yang sulit itu.” Ia kemudian menganiaya perkataannya sendiri. Bahkan, ia kiranya termasuk salah satu burung yang mampu meraih bayang-bayang pegunungan Qaf, tempat Simurgh, sang raja burung, dikabarkan bermukim, setelah melewati tujuh lembah nan menebarkan kecemasan: lembah pencarian, cinta, keinsyafan, kebebasan dan kelepasan, keesaan murni, keheranan, serta ketiadaan dan keterampasan.

Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman AS, yang agaknya juga mewarisi kebijakan tuannya, merupakan burung yang mampu meyakinkan merak untuk turut menempuh perjalanan maha sulit itu dengan berbekal kekuatan cinta. Bersama mereka, ribuan burung lain telah memiliki tekad yang sama saat itu: mencari Simurgh. Tak semua burung mampu hinggap dengan mantap di kaki pegunungan itu, memang. Hanya dari mereka yang sanggup menggapai puncak dan menemui sang Maha Mutlak, Simurgh, yang tak lain adalah diri mereka sendiri.

Kisah para burung yang hibuk dalam mencari seorang pemimpin tersebut—”Tidak ada negeri yang tidak memiliki raja. Demikian pula, tidak ada negeri para burung yang tanpa penguasa,”—disodorkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 20 September malam di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Cerita alegoris yang diambil dari karya berjudul Musyawarah Burung karya salah satu penyair mistik terbesar Persia Fariduddin Attar itu dipentaskan oleh El Na’ma, teater independen yang dibentuk oleh dua mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini Universitas Islam Jakarta): Echo Chotib dan Lailatin Na’ma.

Naskah dipentaskan pada panggung yang ditata dengan properti yang secara visual cukup menjentikkan bulu mata penontonnya. Ada tiga buah selubung menyerupai pilar dari kain kasa yang seolah-olah menyangga langit-langit pentas agar tak rubuh. Di belakangnya, tirai transparan menghalangi tarikan garis yang menyerupai gambaran Gunung Merapi yang membawa suasana mistik dan relijius. Seiring dengan berjalannya pertunjukan, pilar-pilar kelambu tersebut kerap berganti posisi meski kelihatannya tak terlalu berpengaruh pada suasana yang akan dibangunnya.

Para aktor didandani serupa burung. Wajah mereka digambari hingga seakan-akan akan tumbuh paruh di sana. Tangan mereka ditempeli bahan beragam warna serupa bulu. Dalam jalannya pertunjukan, tangan-tangan terhias itu kerap membentang dan mengatup layaknya burung.

Hanya, gerakan seragam dari para aktor tersebut malah menghilangkan kekhasan burung yang juga memiliki nama-nama berbeda itu: kakatua, bulbul, hudhud, merak, elang dan sebagainya. Pada adegan awal ketika para burung bermusyawarah, mereka kompak agguk dan geleng kepala seperti merpati dan mencericit bak pipit. Padahal, mereka membawakan sifat dan perilaku beragam jenis makhluk bersayap itu.

Selain pementasan karya Attar tersebut, malam yang dinamai “Malam Rumi dan Attar” tersebut juga diisi dengan pembacaan puisi-puisi Jalaluddin Rumi oleh Deny Tri Wiranto, Dewi Yull dan Putu Wijaya. Menariknya, dua nama terakhir sanggup membuat penonton bergetar karena cukup mampu membikin paduan yang saling mengisi.

Salah satu hasil kolaborasi mereka adalah munculnya tembang jawa yang disenandungkan oleh Dewi Yull ketika Putu Wijaya sedang membacakan “Kau dan Aku”, sebuah sajak liris yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono:

Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat

Tertinggi

Bebas dari cakap orang, kau dan aku

Pada saat itu, keduanya saling menatap: Dewi bersimpuh di sisi kiri panggung bagian depan, Putu, berkopiah hitam, berdiri di tengah panggung. Sorot cahaya lampu kekuningan yang agak redup menabalkan keintiman itu, suatu hal yang menjadi pelekat bagi cacat yang dimiliki manusia.

Dalam bentuk yang lain, Putu dan Dewi seakan meneguhkan apa yang Hudhud lakukan kepada teman-teman burungnya ketika membujuk mereka untuk melakukan perjalanan menemui Simurgh. Kedua pembaca syair Rumi tersebut, sebagaimana Hudhud, menawarkan, melalui sajak Rumi, cinta sebagai peluruh kekeraskepalaan. Itu mewujud melalui gerak panggung mereka, yang saling mengisi, tak berlebihan dan intens.

Memang, pengajuan karya-karya Rumi dan Attar kepada penonton merupakan pilihan yang cukup jitu. Selain karena seluruh dunia kini sedang gegap-gempita menyambut peringatan hari kelahiran ke-800 Jalaluddin Rumi, kita sedang berada di tengah Ramadhan, suatu bulan yang, bagi banyak orang, manganjurkan orang untuk mempertebal rasa cinta. Terlebih, meminjam kata-kata Zen Hae, Ketua Komite Sastra DKJ, untuk lebih menumbuhkan “cinta yang membubung tinggi hingga ilahi.” Cinta semacam ini, tak dapat disangkal lagi, memang suatu hal yang diincar oleh Rumi dan Attar.

Rumi, melalui syair-syairnya, memang menawarkan cinta yang berkelimpahan. Jika pembacanya diandaikan sebagai bejana, maka syair-syair Rumi adalah madu yang mengisi bejana itu hingga luber senantiasa. Contohnya di Amerika Serikat. Sejak setelah tragedi 11 September, sejumlah komentator menyatakan bahwa Rumi berperan sebagai jembatan yang penting antara warga Amerika dan Islam. Seorang penyair Jerman, Meinke, kiranya benar ketika berkata bahwa syair-syair Rumi adalah “harapan satu-satunya bagi zaman gelap yang kini kita hidup di dalamnya.”

Rumi dilahirkan pada 6 Rabiulawal 604 Hijriah (30 September 1207) di Balkha. Orang tuanya memberi dia nama Jalaluddin Muhammad Balkhi. Seperti halnya “Balkhi”, yang menandai dari mana asalnya, “Rumi” digunakan belakangan untuk menyebut tempatnya menetap hingga meninggal, yakni sebuah kawasan di wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Ia baru mempelajari ajaran mistik, melalui peninggalan ayahnya, berkat bimbingan Sayid Burhanuddin Muhaqqiq, salah seorang murid ayahnya, selama sembilan tahun –sampai Burhanuddin meninggal pada 1240. Waktu itu Rumi, 24 tahun, sudah menggantikan ayahnya yang telah meninggal untuk memimpin madrasah.

Ia adalah seseorang yang rutin sebelum bertemu dengan Muhammad bin Ali bin Malid Daud atau yang lebih dikenal dengan Syamsi (Syamsuddin) Tabriz pada akhir musim gugur 1244. Syamsi adalah seorang darwis (sufi yang memilih hidup miskin) yang telah mengembara ke seluruh penjuru Timur Tengah.

Kepada Rumi, saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, Syamsi melontarkan satu pertanyaan yang membikin Rumi pingsan. Konon, Syamsi bertanya siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah atau sufi Bayazid Bisthami. Menurut riwayat, Bayazid pernah berkata, “Subhani” atau “Mahasuci diriku, Betapa agungnya kekuasaanku”, sedangkan Muhammad dalam doanya berkata, “Kami tidak mengenal-Mu seperti seharusnya”.

Sejak pertemuan pertama, kedua orang itu sulit dilepaskan satu sama lain. Mereka saling berbagi pengalaman mistik; percakapan di antara mereka bisa berlangsung berbulan-bulan, sepanjang siang hingga malam. Syamsi menjadi semacam mentor spiritual bagi Rumi, yang menuntunnya ke tempat-tempat kontemplasi dalam jiwanya.

Eratnya hubungan Rumi dengan Syamsi mengesalkan murid-muridnya, yang merasa jadi terabaikan, hingga suatu kali kebencian tersebut kian memuncak. Fitnah pun tersebar. Dan menyadari hal ini, pada 5 Desember 1248, Syamsi memutuskan meninggalkan Konya.

Rumi sangat terpukul atas kepergian Syamsi. Dia berusaha mencari selama bertahun-tahun. Dia pergi hingga ke Damaskus (Suriah), berkali-kali, tanpa hasil. Selama pencariannya, dia menumpahkan kerinduan dan kesedihannya ke dalam musik, tarian, dan syair (yang kemudian dihimpun menjadi Diwan Syamsi Tabriz, satu dari dua karya besarnya).

Setelah sakit keras, Rumi meninggal pada 17 Desember 1273. Menurut riwayat, saat jenazahnya hendak diberangkatkan ke tempat pemakaman, penduduk setempat berdesak-desakan ingin menyaksikan. Para pemeluk agama lain pun menangisi kepergiannya. Orang Yahudi dan Nasrani, misalnya, turut membacakan Taurat dan Injil. Kepada mereka, para penguasa negeri yang hadir dalam upacara pemakaman bertanya, “Peduli apa kalian dengan suasana berkabung saat ini? Bukankah yang meninggal ini seorang muslim yang alim.” Mereka menjawab, “Berkat dialah kami mengetahui kebenaran para nabi terdahulu. Dan pada dirinya kami memahami perilaku para wali yang sempurna.”

Malam itu, di panggung Teater Kecil, datangnya banyak orang mungkin disebabkan oleh pesona Rumi, dan Attar (orang yang pernah meramalkan kebesaran Rumi), yang mampu menihilkan batas agama atau kepercayaan. Sejak awal hingga akhir acara, hanya beberapa kursi saja yang kosong. Pun jika ada yang meninggalkan tontonan, itu hanya beberapa jiwa saja. Mereka seakan tak ingin kehilangan sedetik pun untuk menikmati bait-bait sajak Rumi yang menjerat. Bahkan, mereka akhirnya mampu menemui Simurgh, bersama burung-burung Attar.

Namun, ada beberapa hal yang mengganggu dalam acara tempo lalu itu. Hal yang menyangkut etika menonton pertunjukan. Di sekujur badan acara, ada saja penonton yang meluapkan sikap kesejarahannya dengan merekam melalui lensa kamera digital memakai blitz. Saya menghitung ada empat kali kilatan lampu. Padahal, hal tersebut sungguh dapat menghancurkan konsentrasi para pemanggung. Ini memang bukan hal baru. Pada sebuah pertunjukan di suatu pusat kebudayaan di daerah Menteng, Jakarta Pusat, kilatan blitz sampai terjadi belasan kali, bahkan setelah si pemilik tustel diganjar peringatan oleh manajer panggung.

Pementasan juga sebetulnya bisa ditata sejak di luar “panggung”. Tidak seperti acara DKJ lainnya, Lampion Sastra, yang telah berikhtiar menata “panggung” sejak pintu masuk dengan memasang lampion, acara “Malam Rumi & Attar” yang lalu terlihat hanya berfokus pada “panggung”. Penonton tidak diajak “keluar” dari kesehariannya ketika memasuki gedung Teater Kecil. Misalnya, lobby gedung sebetulnya dapat dihiasi karya Rumi & Attar, atau gambar pun hal lain yang berhubungan dengan mereka. Sehingga, penonton sedikitnya dapat meraih sedikit waktu untuk mengalihkan keseharian mereka dan “meluruh” dalam pertunjukan.

Bonardo Maulana W, sarjana sastra Inggris Universitas Pajajaran; bergiat di Kelompok Belajar Nalar, Jatinangor. Tulisan ini juga tercantum di ruang sastra situs http://www.dkj.or.id

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: