Seni Sastra

October 14, 2007

Sastra Sebagai Sebuah Dunia

Pascale Casanova

Penerjemah: Noor Cholis

Pelanggan: Tuhan membuat dunia hanya dalam enam hari dan kamu, kamu tak bisa membuatkan aku celana panjang dalam enam bulan!

Penjahit: Tapi, bos, lihat dunia, dan lihat celanamu.

dikutip oleh Samuel Beckett

Jauh, jauh darimu sejarah dunia membentang, sejarah dunia jiwamu.

Franz Kafka

Tiga pertanyaan. Mungkinkah menjalin kembali ikatan yang sudah hilang antara sastra, sejarah dan dunia, sambil tetap memelihara pengertian penuh tentang keunikan teks-teks sastra yang mustahil ditawar? Kedua, bisakah sastra itu sendiri dipahami sebagai sebuah dunia? Kalau bisa, mungkinkah penjelajahan atas wilayahnya akan membantu kita menjawab pertanyaan nomor satu?

Dirumuskan secara lain: mungkinkah menemukan sarana-sarana konseptual yang bisa dipakai untuk menandingi postulat sentral kritik sastra internal berbasis teks—keterpenggalan total antara teks dan dunia? Bisakah kita mengusulkan suatu perangkat teoretis dan praktis yang sanggup melawan prinsip baku otonomi teks, atau independensi yang dianggap melekat pada wilayah linguistik? Sampai sekarang jawaban-jawaban yang diberikan bagi pertanyaan krusial ini, antara lain dari teori pascakolonial, bagi saya nampak hanya membangun kaitan terbatas antara dua domain yang diandaikan tak terbandingkan. Pascakolonialisme mengasumsikan adanya sebuah kaitan langsung antara sastra dan sejarah, kaitan yang semata-mata berwatak politis. Dari sini, ia beranjak menuju sebuah kritik eksternal yang berisiko mereduksi sastra menjadi politis semata, melakukan serangkaian aneksasi atau potong kompas, dan sering diam-diam mengabaikan estetika aktual, karakteristik formal atau stilistik yang sesungguhnya ‘membentuk’ sastra.

Read the rest of this entry »

Seni Pertunjukan

October 11, 2007

Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini

(tubuh dari antropologi budaya lisan)

Afrizal Malna

Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri. Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral Tuhan sekaligus mencari kepuasaan karnal dirinya lewat tubuhnya sendiri. Dan tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika.

Read the rest of this entry »

Seni Rupa

October 11, 2007

Mengukir “Jejak” di Negeri Tetangga

Kurnia Effendi

Dua puluh tiga perupa dari negeri jiran, Malaysia, berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia (Galnas), Jakarta. Berlangsung sejak tanggal 10 sampai 20 September 2007. Pameran yang mengambil judul Jejak merupakan pencanangan tekad para seniman yang tergabung dalam lembaga Balai Seni Lukis Negara (BSLN) menuju Wawasan 2020, saat Malaysia memproklamirkan diri sebagai Negara Maju dan menjadi pusat Multimedia Super Corridor (MSC).

Read the rest of this entry »

Redaksi JC-DKJ

October 5, 2007

Kisaran Kerja

Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jurnal Cipta adalah jurnal pemikiran dan penciptaan seni. Jurnal Cipta, yang terbit dalam dua ragam yakni online dan buku tahunan, setelah sebelumnya hanya menyapa pembaca dalam format majalah, memberi ruang yang setara buat semua bentuk seni: rupa, musik, tari, sastra, teater, dan film.

Penciptaan seni selalu bermula sebagai kegiatan yang individual, dibimbing oleh pengetahuan yang tampak intuitif, yang tak jarang dianggap misterius. Agar bisa subur dan menyebar-luas, penciptaan itu, hasil dan prosesnya, perlu selalu ditelaah sedalam dan seterang mungkin. Pengetahuan yang membimbing penciptaan, pengetahuan yang tampak intuitif dan misterius itu, butuh dibedah dan dipaparkan menjadi pengetahuan yang sistematis dan bisa diuji.

Read the rest of this entry »

Seni Sastra

October 3, 2007

Menuju Simurgh: Malam Rumi & Attar

Bonardo Maulana W


Ketika ditanya untuk terbang melalui tujuh lembah demi mencari sesosok pemimpin, burung merak mendengus cemas, “Aku tak ingin mati dalam perjalanan yang sulit itu.” Ia kemudian menganiaya perkataannya sendiri. Bahkan, ia kiranya termasuk salah satu burung yang mampu meraih bayang-bayang pegunungan Qaf, tempat Simurgh, sang raja burung, dikabarkan bermukim, setelah melewati tujuh lembah nan menebarkan kecemasan: lembah pencarian, cinta, keinsyafan, kebebasan dan kelepasan, keesaan murni, keheranan, serta ketiadaan dan keterampasan.

Read the rest of this entry »