Seni Video

September 18, 2007

OK. VIDEO – MILITIA

3rd JAKARTA INTERNATIONAL VIDEO FESTIVAL 2007

Mirwan Andan

Suara-suara keluar dari mulut seorang laki-laki, bercerita tentang rumah impiannya. Suara tersebut menjadi latar dari video yang gambar-gambarnya berupa: pintu pagar, rumah megah dengan cat yang didominasi warna oranye, kartu tanda penduduk dan sertifikat hak kepemilikan tanah yang diambil dari jarak sangat dekat. Menjelang video berdurasi 7 menit itu berakhir, suara perempuan terdengar, membacakan paragraf pertama dari novel karya sastrawan Rusia, Fyodor Dostoyevsky, The House Of The Dead yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Karya video yang berjudul Huni yang dibuat oleh Mahardika Yudha tersebut adalah salah satu dari 244 karya video yang ikut ambil bagian dalam OK. VIDEO – MILITIA, 3rd JAKARTA INTERNATIONAL VIDEO FESTIVAL, sebuah festival video berdayajangkau internasional, diselenggarakan oleh ruangrupa di setiap tahun ganjil sejak tahun 2003. Untuk tahun 2007 ini, sebanyak 99 seniman dari 27 negara termasuk Indonesia, 10 komunitas dan 2 proyek seni, turut serta dalam festival yang diselenggarakan dari 10 sampai 27 Juli dengan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta sebagai main venue. Selain itu, 3 bulan sebelum festival ini di laksanakan, ruangrupa juga melaksanakan workshop di 12 kota:Cirebon, Depok, Jatiwangi, Manado, Padang, Pekanbaru, Suarabaya, Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta dan Jakarta yang diikuti oleh pelajar SMU, mahasiswa, guru, buruh dan juga Pegawai Negeri Sipil. Dari hasil workshop tersebut, menghasilkan 125 karya video baru yang juga diputar selama festival ini berlangsung.

Jika pada tahun 2003 dan 2005, Festival OK Video hanya dilaksanakan di Galeri Nasional Indoensia, maka tahun ini ruangrupa mencoba hal baru dengan membuat program Video Out dan Video Box: sebuah program pemutaran video di tempat tempat-tempat umum dengan memasang kotak yang berisi TV dan DVD Player. Adapun tempat-tempat tersebut adalah: (ak.’sa.ra) Bookstore Kemang dan Plaza Indonesia, Café Au Lait – Cikini, Japan Foundation, Centre Culturel Français de Jakarta – Salemba, MP Bookpoint, Nanonine House Tebet, Toi Moi, Oktagon Photography Store & Gallery, Kineforum-Studio 1 – Studio 21 TIM, Point Break World-Mal Kelapa Gading 3, Nasi Bebek Ginyo, Lobby Ratu Plaza Office Tower, GoetheHaus, Stasiun Gambir, Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Sudirman dan Bengkel Deklamasi TIM.

Selama Festival ini berlangsung, dilaksanakan pula diskusi yang menghadirkan pembicara dari kalangan yang selama ini aktif sebagai pekerja maupun pengkaji video, seperti Abduh Aziz, Eko Londo, Otty Widasari dan Agung Hujatnikajenong. Program diskusi juga menyediakan satu sesi khusus kepada beberapa peserta workshop dari Jatiwangi, Malang, Semarang dan Depok untuk mempresentasikan dan berbagi cerita mengenai bagaimana mereka akhirnya bisa mengakses dan memproduksi karya video yang selama ini seakan-akan hanya milik kalangan tertentu saja Selain diskusi, digelar pula workshop, bekerjasama dengan Engage Media Australia yang diwakili oleh Anna Helme. Engage Media sendiri adalah sebuah lembaga yang memberi perhatian terhadap bagaimana karya video bisa diakses di dunia maya. Selama workshop berlangsung, dibahas seluk-beluk teknis meng-online-kan karya video: mulai dari software sampai website. Workshop ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari lembaga-lembaga yang selama ini bekerja untuk keselamatan lingkungan, upaya demokratisasi maupun penyelenggara festival film pendek.

Kehadiran Heine Røsdal Avdal, seniman performance dari Norwegia, juga banyak menyita perhatian pengunjung selama beberapa hari di festival ini. Dengan karya instalasi video-nya Box Wth Holes, ia mengajak para pengunjung untuk masuk ke dalam sebuah ruangan bertirai hitam. Di dalamnya terjadi hubungan diantara sentuhan dan pencitraan sebuah sentuhan yang dilakukan dengan sebuah kamera video, kotak, cermin dan proyektor yang ditembakkan dari atas.

***

Karya-karya yang diputar di Festival OK Video ini sangat beragam dari segi penggarapan. Katakanlah misalnya karya video dari Prancis yang dibuat oleh Jean Gabriel-Periot dengan judul We Are Winning Don’t Forget berdurasi 7 menit, menggambarkan situasi dunia dalam kliping video tentang bagaimana korporasi menguasai dunia dan protes dari para aktivis terhadapnya. Di karya tersebut bisa dibayangkan bagaimana Periot melakukan riset panjang seputar demontrasi-demontrasi besar yang pernah terjadi, mulai dari Seattle, Tianamen sampai Gwangju. Atau misalnya karya dari Belanda yang dibuat oleh Mieke Gerritzen dengan judul Beautiful World berdurasi 20 menit 26 detik yang berisi kutipan-kutipan dari para pemikir terkenal ataupun kutipan-kutipan dari orang-orang biasa yang sama sekali tidak terkenal, tentang bagaimana dunia dibodohi karena semuanya bermuara pada kepentingan ekonomi. Video ini juga menggambarkan tentang budaya visual di mana perbedaan “ high culture” dan entertainment menjadi sangat kabur. Sementara karya video yang dibuat oleh Pustanto – seorang Pegawai Negeri Sipil di Depdinas Jakarta – dengan judul Tangkis berdurasi 3 menit 45 detik, menceritakan tentang kebiasaan bermain bulutangkis di dekat rumahnya selepas bekerja di kantor. Tangkis dibuat oleh Pustanto hanya dengan menggunakan kamera handphone. Sangat sederhana, tapi perlu mendapat tempat di tengah semua ini.

***

Dipilihnya MILITIA sebagai tema dalam festival ini adalah sebuah sikap ruangrupa sebagai penyelenggara, terhadap budaya visual di masyarakat yang semakin riuh. MILITIA’ (Milisi – dalam bahasa Indonesia), sebuah kata yang berarti memberdayakan orang sipil secara terorganisir / terencana juga termobilisasi dan berhubungan dengan sebuah kegiatan yang mendorong sebuah perubahan yang terinisiatif dari dalam sendiri. Dalam konteks ini, ruangrupa menghubungkannya dengan perkembangan medium video di masyarakat. Dengan fokus ini dicoba untuk memberdayakan masyarakat sebagai pemakai teknologi dan media untuk membangun kesadaran sosial, budaya, politik dan sejarah terhadap kenyataan yang terjadi disekelilingnya.

Mirwan Andan

Koordinator Riset dan Dokumentasi ruangrupa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: