Seni Musik

September 18, 2007

Musik:

Membangun Kembali Kesadaran Mencipta

Suka Hardjana

Salah satu persoalan utama negara-negara Dunia Ketiga dalam membebaskan diri dari keterbelakangan adalah hal kesadaran mencipta. Produk-produk kemajuan zaman dalam peradaban modern sebagian besarnya adalah hasil rekayasa kecerdasan mencipta. Aplikasi produk peradaban modern yang dioperasikan di negara-negara Dunia Ketiga tak jarang justru meninggalkan berbagai persoalan, karena kurangnya pemahaman mendasar atas latar belakang, alasan dan dalam konteks apa produk peradaban modern itu diciptakan.

Terbukanya gerbang perdaban modern yang menyeruakkan kebudayaan industri pada abad ke-17 bukanlah semata-mata bagian dari tujuan kemakmuran (affluence), tetapi pada awalnya adalah upaya untuk menemukan jawaban efisien dalam mengatasi berbagai pergulatan tantangan hidup. Penemuan-penemuan bentuk awal teknologi permesinan produksi, transportasi, pengobatan, komunikasi  kemudian penemuan teknologi pelistrikan  adalah contohnya. Penemuan-penemuan materi yang memiliki kemampuan daya ubah ruang dan waktu itu terus berkembang tanpa jeda hingga hari ini.

Ada dua kenyataan sejarah yang agaknya perlu menjadi perhatian penting dalam perjalanan waktu itu. Pertama, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari penemuan-penemuan itu merefleksikan betapa pentingnya gagasan dalam penciptaan. Manusia adalah homo creation yang diciptakan sesuai kemiripan sang penciptanya. Fitrah manusia adalah sang pencipta kecil sebagai cermin dari gagasan sang Maha Pencipta. Peradaban adalah gagasan sang pencipta kecil sebagai refleksi permainan hidup atas kerinduan terhadap sang Maha Penciptanya. Karya seni adalah cerminan dari permainan fitrah penciptaan yang ada pada diri manusia. Ia laten dan hanya akan ternyatakan dalam kesadaran akan cermin penciptaan itu.

Kenyataan kedua adalah, di mana dan apa yang dilakukan oleh masyarakat di luar Eropa ketika penemuan-penemuan yang mengubah ruang dan waktu itu berlangsung lebih dari 300 tahun yang lalu? Dan siapkah kini para manusia dari bangsa-bangsa ‘korban perubahan peradaban’ itu mengejar ketertinggalan mereka? Ketika kesadaran bahwa kita (atau siapa pun) telah menjadi bagian dari ‘korban perubahan peradaban modern’, maka (seharusnya) kesadaran akan pentingnya fitrah penciptaan yang mempunyai kemampuan mengubah harus tumbuh dengan sendirinya. Sebagian besar dari produk-produk modern dari peradaban baru yang terus bergulir dan menjadi bagian dari keharusan kebutuhan keseharian kita, dalam kenyataannya bukanlah hasil dari dasar rekayasa gagasan penciptaan kita. Kenyataan ini menyedihkan, karena dari sanalah realitas ketertinggalan diri itu bermula.

Kesadaran penciptaan menjadi dasar utama atas gagasan akan berlangsungnya perubahan yang semestinya bergerak dalam peradaban manusia. Kesadaran penciptaan dengan begitu berada dalam vitalitas semua dimensi kehidupan manusia, di mana karya seni juga mengambil tempatnya. Apakah ketertinggalan dan kemacetan perkembangan seni modern dunia musik di Indonesia juga menjadi bagian dari stagnasi kesadaran penciptaan di bidangnya? Kondisi-kondisi apa yang memungkinkan terhentinya kesadaran ini? Dapatkah manusia keluar dari jerat budaya yang memenjarakan dirinya sendiri ?

Lullaby budaya seni tradisi

Bagian terbesar dari budaya seni tradisi adalah simbolisme dalam bentuk pernyataan-pernyataan diri sebagai cermin kerinduan kepada alam sekitar dan dirinya sendiri. Eksposenya keluar berbentuk alam pikir, alam rasa, naluri, sikap dasar mental atau attitude. Simbol-simbol pernyataan diri itu membentuk bangunan sugesti yang sangat kuat pada diri para pendukungnya, yang melihatnya sebagai dunia yang seolah-olah nyata. Abstraksi karya kesenian dalam budaya tradisi menjadi bagian yang tersatukan dalam dunia rekaan ini, dianggap sebagai bagian dari realitas hidup yang tak bisa ditanggalkan dari kegiatan sehari-hari. Ia dimitoskan sebagai ciri dan jati diri suatu kelompok komunitas, masyarakat atau (suku-suku) bangsa tertentu. Dalam banyak hal absurditas irreal-nya seing melampaui batas-batas akal. Ia menjadi tempat berpijak, bertahan dan mengembangkan diri yang karena kekukuhan proteksi dirinya yang sangat kuat, berubah menjadi sebuah kenyamanan yang meninabobokkan.

Keyakinan dan kenyamanan proteksi diri inilah yang tak jarang menjadi kendala tumbuhnya kesadaran penciptaan sebagai sarana perubahan ke depan yang lebih radikal dan inovatif. Ia antipembaruan dan perubahan karena secara ideologis berada dalam stagnasi kenyamanan bertahan diri dalam formula-formula baku yang telah ditetapkan dan dipercaya kebenarannya. Modernisasi perubahan menghadapi tembok besar yang kukuh dan dunia penciptaan karya baru berhenti di batas-batas demarkasi masa lalu. Padahal budaya seni tradisi yang tersembunyi di balik masa lalu, sebagai sumber yang luar biasa besarnya itu, sangat potensial memberi keniscayaan dan tawaran yang tak terhingga bagi terbangunnya daya penciptaan karya-karya baru seni kreatif. Sebagai sang pencipta kecil, manusia punya kapasitas yang luar biasa besar untuk selalu menemukan cara baru buat mengubah kemandegan ruang-waktu alam sekitarnya yang mematikan.

Mengapa kekayaan sumber daya masa lalu dan sumber daya manusia tidak dapat bertemu di dalam koeksistensi kreatif bagi masa depan yang terus bergulir? Kesalahan utamanya terletak pada faktor kemandulan manusianya yang tidak bisa memahami kemampuan fitrah dasar daya ciptanya, hambatan miophia (rabun jauh) pada dirinya yang tidak dapat melihat masa depannya yang sangat terbuka. Orang terbuai oleh tradisi masa lalunya. Kenyamanan mitos identifikasi jati diri yang terlalu protektif itu memogokkan daya-daya penemuan baru untuk memberi jawaban atas persoalan dan tantangan masa depan yang akan selalu berubah. Keterlambatan melihat ke depan inilah yang menjadi salah satu sebab banyak bangsa sekadar menjadi ‘korban peradaban baru’. Ketika sebagian benua masih tertidur – di bagian lain bola bumi ini manusianya berputar terus dengan penemuan-penemuan yang bersumber dari kemampuan daya cipta mereka. Hal itu menjadi penyebab utama timpangnya tingkat kemajuan peradaban di berbagai wilayah bumi, dilihat dari perspektif pergeseran waktu yang terus berubah.

Ignoransi kemajemukan budaya

Banyak orang sering membangga-banggakan kemajemukan budaya sebagai bagian dari eksistensi kemadirian hidup bersama. Tetapi ketika kenyataan-kenyataan keberagaman budaya itu masing-masing ketunggalan kesatuannya hanya dilihat sebagai kekayaan unikum mitos jati diri yang penuh atribut istimewa egoncentris yang protektif, penuh kesombongan dan tidak toleran – maka kemacetan-kemacetan progresi waktu segera terjadi, karena dorongan ambisi masing-masing kelompok komunitas, masyarakat atau (suku) bangsa untuk menjadi aku yang ter.

Di dalam jarak ketegangan yang ‘dekat tapi jauh’ dari kemajemukan ruang gaul (Gesellschaft) dan budaya yang sangat berbeda dalam berbagai fundamental kebutuhan dan basis kepentingan inilah awal mula timbulnya kesulitan untuk mencapai kesepakatan bersama, pengambilan keputusan bersama – bahkan tak jarang juga untuk sekadar bertoleransi dan saling menghormati. Dari sikap dasarnya, tak jarang masing-masing pihak akan mengambil pembenaran bagi kepentingan sendiri atas berbagai aksi dan keputusan yang mengabaikan harga dan nilai kemajemukan yang hendak dibangun. Kemajemukan budaya batal menjadi inspirator sumber-sumber perubahan dan penciptaan karya-karya baru seni, karena masing-masing pihak terhalang melihat unikum pihak liyan – bukan hanya sebagai penghargaan semu, tetapi sebagai sumber materi kekayaan serapan untuk menemukan jawaban-jawaban baru terhadap berbagai kemacetan.

Pada dasarnya setiap budaya mempunyai level kesepadanan dalam tingkat dasar fungsi intrinsik sistim nilainya. Tetapi karena prasangka-prasangka kategori budaya dipilah-pilah dalam berbagi klasifikasi yang membingungkan  budaya adiluhung, kesenian rakyat, adikuasa, negara berkembang dan seterusnya  terjadilah kesenjangan antar budaya dalam ruang-ruang prestise harga dan jati diri semu yang tidak menguntungkan bagi capaian nilai-nilai kemajuan bersama. Kesenjangan peradaban modern tercipta karena sebab-sebab ini, di mana pembangunan kesejahteraan dalam dimensinya yang luas mempengaruhi terbentuknya diskripansi kemajuan peradaban budaya yang acak dan tidak seimbang. Di satu pihak ada masyarakat (bangsa ?) yang laju penemuan penciptaan produk-produk barunya terus berkembang dengan sangat cepat – sementara sebagian besar lainnya tidak berbuat banyak dan menjadikan dirinya sebagai pasar yang menguntungkan kelompok manusia yang lebih maju. Keadaan perimbangannya tidak banyak berubah sepeerti 300 tahun yang lalu.

Kemajemukan memang bukan keseragaman di mana diferensi tingkat kemajuannya tak mungkin disepadankan. Tetapi bila deskripansi kesenjangannya terlalu jauh jomplang, maka orang tidak mungkin menimpakan kesalahan ketidakseimbangan hanya pada faktor keadilan, kesempatan, prakondisi dan sebagainya. Di luar itu, pasti ada sesuatu yang salah dalam kemampuan sumber daya penciptaan untuk menemukan jawaban-jawaban bagi pesoalan dan tantangan pada sekitar ruang-waktu yang dihadapi. Kemajemukan harus dilihat konteks sistim nilainya secara lebih kritis, karena kemajemukan bukan selalu menjadi tablet manis yang bisa menyelesaikan semua masalah keberbagaian dalam kebersamaan.

Kemajemukan budaya sebagai medan sumber daya penciptaan tidak boleh hanya dilihat dalam konteks kepentingan kolektifnya – tetapi juga harus dilihat dari perspektif sejauh mana kedaulatan dan kebebasn individu dalam relasi personalnya bisa dihargai. Justru karena manusia sebagi ‘sang pencipta kecil’, sejatinya adalah juga manusia (ke)tunggal(an) berdaya cipta (kreator) yang tak terkira. Potensi inilah yang tak dilihat oleh bangsa-bangsa ‘korban peradaban baru’ yang terlalu lelap tertidur di zaman yang tidak terbangunkan.

Gangguan overloading informasi

Pasar itu medan informasi majemuk yang masing-masing bergerak menurut sasaran sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Ketika negeri-negeri ‘korban peradaban baru’ seperti Indonesia menjadikan dirinya sebagai pasar terbuka multi-konsumsi yang tak terkendali, maka putaran simpang siur informasi tak akan terlakkan lagi. “Pasar Gede” ini mau tak mau harus menerima resiko berkedutnya berbagai simpang siur kesesakan (rigid) kilatan informasi yang sesungguhnya juga menimbulkan kegalauan dan kebingungan budaya. Limpahan agresi informasi yang ekstensitasnya tak mungkin terbendung ini menjadikan orang tak mampu lagi menimbang, merenung, memilih dan menyaring tawaranan yang paling urgen untuk diserap. Kemampuan menilai informasi sungguh diperlukan untuk mengembangkan diri di tengah persaingan dunia yang semakin tajam mobilitas gerakan progresinya.

Terjangan informasi global yang membludak lebih menimbulkan distorsi budaya yang mengakibatkan kegamangan dan kebingungan memilih cara untuk mengakomodasikan diri dengan persesuaian modal budaya sendiri. Di segala bidang, terjadi amok pembaharuan (reformasi?) cara hidup yang aneh. Orang merindukan indentitas kebangsaan sambil terus menerus mengelu-elukan sistim global dalam perangai yang masih tetap tribal. Magnitude tarik-menarik kekuatan sikap dan keinginan menyatukan identitas budaya dalam keberbagaian tuntutan, menimbulkan ketegangan hubungan-hubungan yang pada tingkat ekstremnya sama sekali tak bisa dimengerti dan tak masuk akal.

Krisis ekonomi tidak membuat sebagian kelompok masyarakat tertentu tampak terkena pengaruh apa pun. Bahkan sebaliknya. Jalanan penuh sesak dengan mobil mewah dan mobil-mobil terbaru yang bagus-bagus  bukan buatan (bangsa) sendiri. Sebagai negara miskin Indonesia adalah ‘toko mobil’ terbesar di dunia dengan berbagai merk dan model yang tersedia dari para raksasa produsen mobil dari seluruh penjuru dunia  kecuali sekedar merakit dan menjual, Indonesia belum bisa membuat mobil sendiri. Namun demikian, mal, supermarket, restauran, hotel, tempat-tempat liburan dan hiburan yang mewah dan mahal-mahal dalam ukuran negara miskin, penuh sesak dengan orang-orang yang mengejar gaya hidup modern kota-kota besar negara maju.

Karena lebih dipercaya kualitas keunggulannya, produk luar negeri lebih diminati daripada produk domestik. Gaya model dan selera kota mengubah perilaku dan cara hidup anak dan orang dewasa sampai ke pelosok dusun. Gaya dan selera kota itu tak ada sedikit pun relasinya dengan budaya rakyat yang menjadi akar rumput kebudayaan negeri ini. Budaya rakyat hanyalah eksotisme yang boleh diabaikan, kecuali untuk mendatangkan turis manca negara. Sementara itu seluruh dimensi upaya memodernisasi diri terbirit-birit mengejar ketertinggalan sambil terus tak henti-hentinya menyimak sumber-sumber aslinya untuk mentah-mentah ditiru, dimanipulasi atau dipalsukan. Apa yang sesungguhnya kita ciptakan? Guyuran deras kekuatan teknologi informasi melalui berbagai sistem media dan produknya tidak membuat orang menjadi lebih melek peradaban dan terampil mengurusi diri sendiri – tetapi tak jarang malah mengakibatkan kemacetan dan sindroma picak budaya dalam melihat masa depan dengan segala wigati perubahan-perubahannya.

Dalam konteks ini  ketika kegagapan menghadapi laju kemajuan manajemen peradaban teknologi informasi terjadi tanpa pilih tempat dan waktu  maka aksi (penciptaan) berubah menjadi reaksi, antisipasi menjadi sekadar imitasi, epigonisasi, pemalsuan sampai pembajakan dan pencurian gagasan dan hak cipta secara terang-terangan. Distorsi overloading informasi terjadi di mana-mana karena kurangnya daya kritis dan daya cipta.

Etnocentrisme yang mematikan

Sebagai orang asli Yogya, seumur-umur saya belum pernah menyaksikan klenengan gamelan (konser musik karawitan) gaya Surakarta di Yogyakarta. Begitu sebaliknya bagi orang Solo. Jarak budaya Semarang-Yogya-Solo tidakalah terlalu dekat dibanding jarak geografis. Lalu? Kecuali dalam forum-forum akademik dan festival politik budaya yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah  adalah suatu kesempatan yang sangat langka bagi orang Bali untuk melihat pertunjukan musik (konser) gamelan Jawa. Begitu sebaliknya. Sebuah pertunjukan musik Sunda akan sulit diterima bila dimainkan di pedalaman Kalimantan atau Papua. Musik daerah Flores tak akan otomatis mengimbau kesadaran empati di daerah Nias. Begitu sebaliknya, dan seterusnya.

Etnocentrisme lokal sebagai mitos jati diri yang protektif, mematikan daya serap dan toleransi budaya. Sulit sekali mengkampanyekan kesadaran pemahaman kemajemukan budaya sebagai sebuah sikap ‘ikut memiliki’ yang menjadi basis toleransi dan saling penghargaan. Prasangka-prasangka apriori budaya lokal etnik selalu menjadi batas sempit proses akulturasi kemajemukan budaya. Sulit sekali mengajarkan tari seudati atau saman di ranah Bali, atau gamelan Bali di tanah Rencong. Tetapi sebaliknya, jauh lebih gampang membelajarkan musik jazz atau pop dan rock Amerika kepada masyarakat (suku-suku bangsa) Indonesia, di mana pun mereka berada. Sebaliknya, kita tahu, banyak sekali orang Amerika atau anggota masyarakat bangsa-bangsa lain yang sangat fasih menguasai musik, tari, teater dari (budaya-budaya etnik) kesenian Indonesia.

Pertukaran ekstensi budaya antarbenua (bangsa) sudah lama berlangsung – sementara persinggungan intrabudaya antar(pulau)Nusantara selalu dimuati keterasingan (Entfremdung) prasangka-prasangka penyempitan etnosentrisme yang ‘mematikan’. Mematikan keterbukaan, mematikan toleransi kebhinekaan, mematikan keterkaitan sumber penyerapan (inter-relation) budaya, mematikan saling keterkaitan sumber inspirasi pencipataan budaya baru. Bila kekayaan sumber-sumber keberagaman sering dirayakan dalam konteks dan kredo identifikasi diri  dalam banyak hal sering terlalu etnosentristik, bahkan sampai ke tingkat narsistik  nasionalisme yang berlebihan  maka dalam hal upaya pembaharuan, sudah semestinyalah bila orang harus lebih sering menengok ke dalam diri sendiri  daripada terus-menerus berpaling jauh-jauh keluar untuk kemudian menjiplaknya dengan membabi buta.

Haruslah kembali diingatkan, bahwa sifat-sifat utopia etnosentrisme yang keterlaluan akan mematikan daya kreatif, karena fitrah dunia penciptaan adalah: sambil membuka kesadaran diri, memandang jauh keluar jendela. Etnosentrisme yang determenasi proteksi dirinya terlalu berlebihan tidak akan membawa orang jauh ke mana-mana. Ia tidak mengajarkan dan tidak membelajarkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri. Etnoserntrisme yang berlebihan akan menjadi dogma kesukuan yang mematikan, di mana sumber-sumber daya cipta dan produk-produk ciptaan juga akan mati dengan sendirinya.

Plularisme modern dan kedaulatan individu

Kemajemukan budaya tidak lagi boleh hanya ditafsirkan sebagai kemajemukan antarbudaya ikatan kelompok, perbedaan strata sosial dan ekonomi, pengelompokan kategoris entitas etnik-bangsa dan sebagainya. Karena pengaruh tingkat cara pandang realitas kebendaan (materi), pengalaman empirik dalam konteks sejarah, ruang dan waktu peristiwa-peristiwa sebagai pengalaman pribadi, latar belakang pendidikan dan relasi kontak-kontak sosial dalam jaringan antar manusia dan perangkat komunikasinya – individum (dalam proporsi yang lebih luas: generasi waktu atau usia) juga harus dilihat dalam kapasitas ekstensinya sebagai gejala budaya yang lain. Karena pengaruh-pengaruh indikator waktu (time) dalam segala bentuk jaringan (space) dan alat kerjanya (tool) – individum mempunyai hak budayanya sendiri dalam konteks tafsiran konvensi sosial yang bersifat lebih kolektif. Ia (individum) juga mempunyai caranya sendiri untuk bertahan mengatasi tantangan hidup yang mungkin berbeda dari ‘kelompok’ sosialnya di mana ia terhitung dalam keberadaan eksistensinya (yang sesunggguhnya semu).

Bukankan Anda sebagai orang tua ‘masa lalu’ sering mengalami kesulitan ber-koeksistensi dengan anak-cucu Anda? Lebih jauh, bukankah pada dasarnya anak-cucu Anda memiliki ‘kedaulatan hak hidup’nya sendiri (eksisten diri)? Contoh awamnya yang sangat sederhana adalah realitas bahwa bukankah bahasa komputer dan teknologi media adalah budaya anak masa kini yang deskripansi fungsi politik-sosial dan budayanya jelas sangat berbeda jauh dengan budaya tradisi (orang tua) masa lalu? Individu-individu sebagai elemen budaya harus diakui kedaulatan budayanya dalam konteks masa kini. Perubahan radikal dalam tradisi budaya kita adalah bahwa: karya-karya cipta akan semakin lebih berdaulat sebagai karya individum, dibanding karya budaya kolektif di masa lalu. Karena pengaruh piranti dan hubungan-hubungan (kompleksitas relasi) yang semakin terbuka, karya-karya yang lebih ‘berkedaulatan individum’ akan semakin ditilik sebagai pilihan kaum muda masa kini dan masa yang akan datang.

Di sinilah karya seni  terutama musik, di mana aplikasi media kreatif akan semakin dipengaruhi oleh piranti-piranti teknologi media  akan menghadapi tantangannya yang jauh lebih berat di masa datang. Para pemusik Indonesia yang terbiasa menjadi ‘kaum buruh’ produksi pertunjukan dan studio rekaman akan ditantang untuk lebih mandiri sebagai seniman sejati yang hidup dari kemampuan daya ciptanya sendiri. Karena musik dalam sosoknya adalah bentuk seni permainan waktu (gestatete Zeitkunst) maka ia akan semakin rawan perubahan di sepanjang masa perjalanan waktu. Dalam aspek kreasinya (ciptaan) ia akan semakin dituntut untuk mandiri.

Dalam kenyataan relasi hubungan-hubungan kerja produksinya akan dituntut untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang ada di luar dirinya (film, teater, tari; multi media, kolaborasi, instalasi, dst). Para pemusik tak akan lagi diberi kesempatan bekerja awur-awuran tanpa studi mendalam dalam bidangnya  karena tuntutan dan daya kritis masyarakat, sifat komersialisasi produksi, tingginya persaingan kerja dan mutu produksi, bekal pengalaman, studi, wawasan dan sebagainya  akan semakin menjadi beban eksistensi para seniman musik dan seniman lainnya. Siapkah para pemusik Indonesia yang sebagian besarnya terbiasa menjadi kaum buruh seni hiburan, menjadi penyimak dan epigon dari sumber-sumber budaya nun jauh di sana – menjadikan dirinya sendiri sebagai profi dan seniman sejati yang sambil membuka kesadaran diri, memandang jauh keluar jendela ?

Sulitnya mencari teks-teks bacaan literatur dan partitura musik untuk dimainkan dalam forum-forum kreatif musik seni, menjadi indikator nyata bahwa musik modern Indonesia  karena lemahnya sumber-sumber daya penciptaan yang dimiliki  belum mempunyai sejarahnya sendiri. Tak adanya kritik seni, kurangnya isntitusi pendidikan formal musik dan lembaga-lembaga organisai kemasyarakatan di bidang musik seni  tak adanya media penerbitan musik dengan para pendukung intelektualnya  menjadi indikator lain dari lemahnya jaringan sistim penciptaan kerja musik seni di negeri ini. Tiadanya gedung-gedung pertunjukan musik dengan segala macam impresariat dan lembaga-lembaga pendanaan swadaya masyarakat (filantropi) memacetkan harapan tumbuhnya kehidupan masyarakat musik seni di Indonesia.

Sesungguhnya universitalitas musik membuktikan bahwa musik bukanlah sekadar seni klangenan dan seni hiburan belaka  seperti dianut oleh sebagian besar masyarakat negeri ini  baik secara vertikal maupun secara horisontal. Dari rakyatnya yang paling bawah sampai lapisan tertinggi kaum terpelajar dan pimpinan lembaga-lembaga negaranya  semua menggeluti seni musik klangenan dan hiburan, seolah-olah tak ada pilihan lain selain dunia musik rekreasi untuk penghiburan. Kenyataan ini adalah gambaran yang menyedihkan dalam perkembangan budaya seni modern di Indonesia. Kesadaran penciptaan harus didorong untuk mengeksplorasi budaya musik seni yang lebih memiliki wigati di negeri ini. Atau, kita akan semakin tertinggal jauh dalam pergaulan global, dibanding negara-negara lain yang lebih maju. Kemajuan budaya musik juga menjadi salah satu indikator kemajuan peradaban budaya masyarakat pendukungnya. Banyak hal masih harus dibenahi secara mendasar di negeri ini. Tanpa kesadaran penciptaan tak ada hal baru yang dapat dilakukan untuk mengubah keadaan.

Suka Hardjana, komposer dan kritikus musik, kolumnis Harian Kompas, Jakarta.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: