Seni Pertunjukan
November 4, 2007
Harapan-harapan “Intercultural”:
I La Galigo di Singapura
Jennifer Lindsay
Penerjemah: Landung Simatupang
The Drama Review – Volume 51, Number 2 (T 194), Summer 2007, pp. 60-75
Markah
I La Galigo – pergelaran teater yang disutradarai Robert Wilson dan diilhami cerita epik dari Sulawesi, Indonesia, yang diperdanakan tahun 2003 di Singapura dan kemudian dikelilingkan di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.
I La Galigo – pergelaran epik Bugis La Galigo, dengan musik yang digubah dan diaransemen oleh Rahayu Supanggah; koreografi oleh Andi Ummu Tunru; nyanyian oleh pendeta Bissu, Puang Matoa Saidi; pelaku pergelaran dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Bali; dan disutradarai oleh sutradara tenar dari Amerika, yang dipentaskan di Jakarta Desember 2005 setelah mula-mula disajikan di berbagai tempat di luar negeri.
Seni Sastra
December 24, 2007
Puisi Pesisir Gresik
Indra Tjahyadi
Diksi atau pilihan kata adalah jalan pertama bagi seorang penyair dalam mengabarkan kepada pembaca seberapa besar tingkat keterikatan antara dirinya dengan lingkungan tempat dia tinggal. Melalui pemilihan kata, seorang penyair berusaha memperlihatkan relasi antara dirinya dengan lingkungan tempat ia berada dan melakukan penciptaan. Melalui pengenalan terhadap diksi, seorang pembaca dapat mengetahui latar belakang kultur ataupun riwayat dari seorang penyair dan lingkungan si penyair.
Seni Film
December 21, 2007
Mempertandingkan Nasionalisme Indonesia dengan Maskulinitas pada Sinema
Intan Paramaditha
Penerjemah: Tito Imanda
Journal of Asian Cinema 2007
Dalam salah satu film paling berpengaruh pada masa rezim Orde Baru (1966-1998) di Indonesia, Pengkhianatan G30S/PKI (1984) buatan Arifin C. Noer, sebuah adegan menunjukkan anak perempuan seorang jenderal melihat dengan penuh kekaguman pada potret Sang ayah dalam seragam militernya (ilustrasi 1).[1] Sudut pandang dengan angle rendah dari potret tersebut menciptakan aura keagungan yang meliputi figur jenderal tersebut. Anak tersebut mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin memiliki emblem bintang di dadanya seperti yang dipakai oleh ayahnya. Sang ibu, sambil meletakkan seragam suaminya di dalam lemari, menjawab bahwa ia harus berjuang dalam pertempuran untuk mendapatkan sebuah bintang. Sang ayah tidak hadir dalam setting rumah, namun seragam yang menjadi penggambaran dari kehadirannya, mengikat sang ibu dan anak perempuan. Adegan ini mendirikan sebuah kelelakian ideal dalam militer Indonesia dengan sang jenderal menjadi figur heroik ayah ideal baik dalam ranah publik maupun domestik. Ini memperkenalkan budaya Bapakisme dalam politik Indonesia, yang diganggu untuk kemudian didirikan kembali di dalam dan di luar diegesis kefilman.
Seni Rupa
December 6, 2007
Komik Sebagai Anglukis
Komik Perjuangan Delsy Syamsumar,
Periode 1962-1978.
Hikmat Darmawan
Kemungkinan besar, Anda pernah terpajan (terekspos) pada karya Delsy Syamsumar. Kalau Anda pernah bengong di bandara, dan memerhatikan delikasi logo maskapai penerbangan Bouraq, Anda sedang menatap karya Delsy. Atau kalau Anda ingat logo kuda laut yang sebetulnya aneh juga menjadi logo Pertamina dahulu, Anda juga sedang menatap karya Delsy. Atau, ingatkah Anda majalah Kartini yang pertama kali terbit pada masa 1970-an? Logo majalah itu juga karya Delsy. Tapi, yang sangat besar kemungkinannya, adalah jika Anda berada di kota-kota Indonesia, dan ujung mata Anda melihat restoran-restoran Padang di tepi jalan. Anda perhatikan logo nama restoran-restoran itu―banyak yang menggunakan model huruf yang dibuat berbentuk rumah gadang, lengkap dengan atap gadangnya yang mencuat. Nah, itu adalah tiruan dari rancangan grafis Delsy untuk logo restoran rumah Padang.
Seni Pertunjukan
November 28, 2007
Teater Segala yang Mungkin
Dari Multikulturalisme hingga Kemenduaan Teater Indonesia
Radhar Panca Dahana
Lebih dua dekade belakangan ini, diskusi teater―juga wacana-wacana intelektual lainnya―di berbagai belahan dunia, dihangatkan oleh pembicaraan mengenai multikulturalisme, sebagai cara berpikir, modus kerja atau kreatif. Namun, apa yang kemudian muncul dan dihasilkan dalam perbincangan ramai itu? Sebagian orang, entah pengamat, praktisi, atau akademisi, menyatakan hanya kesimpangsiuran yang kita dapat. Sebagian lain mengatakan perbincangan itu hanyalah kegenitan intelektual yang tak berhasil menyentuh problem praktis dan keseharian dari kerja teater itu sendiri. Erika Fischer-Lichte dengan gamang mempersoalkan “kegenitan” itu, karena belum bisa membuahkan satu skema berpikir yang adekuat, dan menurutnya, “terlalu tergesa untuk mengajukan sebuah teori global tentang interkulturalisme teater.”[1] Sementara Patrice Pavis memandang perbincangan ramai ini belum juga berhasil menemukan identitas masalahnya yang tegas. Yang terjadi adalah perdebatan sumir yang “tinggal sebagai pucuk dari gunung es.” [2]
Seni Sastra
October 14, 2007
Sastra Sebagai Sebuah Dunia
Pascale Casanova
Penerjemah: Noor Cholis
Pelanggan: Tuhan membuat dunia hanya dalam enam hari dan kamu, kamu tak bisa membuatkan aku celana panjang dalam enam bulan!
Penjahit: Tapi, bos, lihat dunia, dan lihat celanamu.
dikutip oleh Samuel Beckett
Jauh, jauh darimu sejarah dunia membentang, sejarah dunia jiwamu.
Franz Kafka
Tiga pertanyaan. Mungkinkah menjalin kembali ikatan yang sudah hilang antara sastra, sejarah dan dunia, sambil tetap memelihara pengertian penuh tentang keunikan teks-teks sastra yang mustahil ditawar? Kedua, bisakah sastra itu sendiri dipahami sebagai sebuah dunia? Kalau bisa, mungkinkah penjelajahan atas wilayahnya akan membantu kita menjawab pertanyaan nomor satu?
Dirumuskan secara lain: mungkinkah menemukan sarana-sarana konseptual yang bisa dipakai untuk menandingi postulat sentral kritik sastra internal berbasis teks—keterpenggalan total antara teks dan dunia? Bisakah kita mengusulkan suatu perangkat teoretis dan praktis yang sanggup melawan prinsip baku otonomi teks, atau independensi yang dianggap melekat pada wilayah linguistik? Sampai sekarang jawaban-jawaban yang diberikan bagi pertanyaan krusial ini, antara lain dari teori pascakolonial, bagi saya nampak hanya membangun kaitan terbatas antara dua domain yang diandaikan tak terbandingkan. Pascakolonialisme mengasumsikan adanya sebuah kaitan langsung antara sastra dan sejarah, kaitan yang semata-mata berwatak politis. Dari sini, ia beranjak menuju sebuah kritik eksternal yang berisiko mereduksi sastra menjadi politis semata, melakukan serangkaian aneksasi atau potong kompas, dan sering diam-diam mengabaikan estetika aktual, karakteristik formal atau stilistik yang sesungguhnya ‘membentuk’ sastra.
Seni Pertunjukan
October 11, 2007
Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini
(tubuh dari antropologi budaya lisan)
Afrizal Malna
Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri. Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral Tuhan sekaligus mencari kepuasaan karnal dirinya lewat tubuhnya sendiri. Dan tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika.
Seni Rupa
October 11, 2007
Mengukir “Jejak” di Negeri Tetangga
Kurnia Effendi
Dua puluh tiga perupa dari negeri jiran, Malaysia, berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia (Galnas), Jakarta. Berlangsung sejak tanggal 10 sampai 20 September 2007. Pameran yang mengambil judul Jejak merupakan pencanangan tekad para seniman yang tergabung dalam lembaga Balai Seni Lukis Negara (BSLN) menuju Wawasan 2020, saat Malaysia memproklamirkan diri sebagai Negara Maju dan menjadi pusat Multimedia Super Corridor (MSC).
Redaksi JC-DKJ
October 5, 2007
Kisaran Kerja
Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jurnal Cipta adalah jurnal pemikiran dan penciptaan seni. Jurnal Cipta, yang terbit dalam dua ragam yakni online dan buku tahunan, setelah sebelumnya hanya menyapa pembaca dalam format majalah, memberi ruang yang setara buat semua bentuk seni: rupa, musik, tari, sastra, teater, dan film.
Penciptaan seni selalu bermula sebagai kegiatan yang individual, dibimbing oleh pengetahuan yang tampak intuitif, yang tak jarang dianggap misterius. Agar bisa subur dan menyebar-luas, penciptaan itu, hasil dan prosesnya, perlu selalu ditelaah sedalam dan seterang mungkin. Pengetahuan yang membimbing penciptaan, pengetahuan yang tampak intuitif dan misterius itu, butuh dibedah dan dipaparkan menjadi pengetahuan yang sistematis dan bisa diuji.
Seni Sastra
October 3, 2007
Menuju Simurgh: Malam Rumi & Attar
Bonardo Maulana W
Ketika ditanya untuk terbang melalui tujuh lembah demi mencari sesosok pemimpin, burung merak mendengus cemas, “Aku tak ingin mati dalam perjalanan yang sulit itu.” Ia kemudian menganiaya perkataannya sendiri. Bahkan, ia kiranya termasuk salah satu burung yang mampu meraih bayang-bayang pegunungan Qaf, tempat Simurgh, sang raja burung, dikabarkan bermukim, setelah melewati tujuh lembah nan menebarkan kecemasan: lembah pencarian, cinta, keinsyafan, kebebasan dan kelepasan, keesaan murni, keheranan, serta ketiadaan dan keterampasan.
